Buletin MITRA (BuMi) diterbitkan oleh SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STUDI ALKITAB UNTUK PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA (STT-SAPPI), sebagai media komunikasi dan informasi antara pekerja, pemerhati, pemikir dan masyarakat umum yang terbeban dalam pengembangan pedesaan di Indonesia secara utuh. Terbit tiga bulan sekali.

Senin, 01 September 2014

BERITA STT SAPPI

PENUTUPAN SEMESTER GENAP TA 2013/2014
Semester Genap TA 2013/2014 telah ditutup dengan ibadah pada Sabtu, 16
Mei 2014. Firman Tuhan dalam ibadah dilayani oleh Bpk. Sunarto, M.Th.
Dalam ibadah penutupan tersebut juga dilakukan pengutusan mahasiswa
praktik pelayanan dua bulan dan satu orang mahasiswa Praktik Pelayanan
Lapangan (PPL) 1 tahun.

PROGSIF XVI / 2014
Kegiatan Progsif Angkatan XVI tahun 2014 telah dilaksanakan pada
tanggal 2 – 21 Juni 2014. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang
dilaksanakan dalam waktu 4 minggu, untuk kali ini Progsif hanya
dilakukan selama 3 minggu. Hal ini berkaitan dengan waktu kegiatan
Progsif berdekatan dengan kegiatan Pemilihan Umum. Pelaksanaan Progsif
ini diikuti oleh 23 orang peserta. Materi-materi yang disampaikan
meliputi: Konsep Pelayanan Holistik (Drs. Denny R. Kussoy, D.Min.),
Sistem Pertanian Organik (Ir. Sudaryanto), Sistem Agribisnis di
Indonesia (Dr. Ir. Bambang Sayaka, M.Sc dan Ir. Saktyanu Adi, M.S.),
Ternak Ruminansia dan Teknik Biogas (Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc.), Teknik
Pembiakan Vegetatif (Ngatari), Tanaman Hortikultura, Herbal dan
Pemanfaatannya (Ir. Endang SM, M.Si), Ternak Babi (Dr. Sauland Sinaga,
S.Pt., M.Si), Program Pemberdayaan Masyarakat (Dr. Ir. Djuara Lubis,
M,Sc), Dinamika Kelompok dan Teknik PRA (Ir. Herlambang PS, M.Si),
Teknologi Pengolahan Pangan (Dr. Ir. Hardoko, M.S), Budidaya Perikanan
(Ir. Hidayat Eliazar), Ternak Unggas (Ir. Timbul Sihombing),
Pengelolaan Sumberdaya Air (Drs. Suharyono, M.T), dan Budidaya Jamur
Tiram (Suharianti Garit). Kegiatan pada malam hari bervariasi, yang
meliputi: seminar, sharing lembaga pelayanan, sharing peserta, dan
pemutaran film. Selain materi di dalam kelas, peserta juga dibekali
dengan kegiatan praktik dan kunjungan lapangan. Dengan beragamnya
materi yang diberikan, diharapkan setiap peserta mendapatkan bekal
yang memadai untuk kembali berkiprah di tempat pelayanan masing-masing
dan semuanya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan




PENERIMAAN MAHASISWA BARU DAN OSMARU 2014
Pada Tahun Akademik 2014/2015, Tuhan telah mempercayakan mahasiswa
baru untuk dipersiapkan di STT SAPPI. Jumlah mahasiswa baru yang
diterima adalah 29 orang, yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 10
orang perempuan. Mahasiswa baru tersebut berasal dari 12 provinsi,
yaitu Sumatera Utara (3 orang), Sumatera Barat (2 orang), Bangka
Belitung (1 orang), Lampung (3 orang), Kalimantan Barat (1 orang),
Jawa Barat (3 orang), Jawa Tengah (1 orang), Sulawesi Barat (4 orang),
Sulawesi Tenggara (1 orang), Sulawesi Selatan (2 orang), Nusa Tenggara
Timur (3 orang), dan Papua (5 orang).
Mahasiswa baru yang telah diterima wajib mengikuti beberapa kegiatan
awal sebelum mulai perkuliahan, yaitu: matrikulasi (8 – 25 Juli 2014)
dengan materi matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan
formasi spiritual; Orientasi mahasiswa baru (31 Juli – 2 Agustus
2014).
Tujuan utama kegiatan Osmaru adalah peneguhan dan penegasan tentang
keyakinan akan keselamatan di dalam Kristus, panggilan menjadi hamba
Kristus, dan visi misi pelayanan pedesaan. Kegiatannya lebih
diutamakan sebagai wadah bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan
dan kegiatan di kampus STT SAPPI, seperti: pengaturan waktu, kegiatan
praktik, dll. Pada hari kedua juga diadakan KKR yang dilayani oleh
Pdt. Hendra Rei dari GII Hok Im Tong.


MAHASISWA PPL 1 TAHUN
Mahasiswa yang akan melaksanakan PPL 1 tahun untuk periode Agustus
2014 – Juli 2015 ada 6 orang, yaitu: Marthinus di GKMI Kudus, Jawa
Tengah; Widodo diutus oleh Bidang Misi GKI Anugerah di Sumba, NTT;
Jeli Nortiana Ismau diutus oleh Yayasan Misi Parousial; Nidaria Buaya
di Yayasan Mitra Pelayan Tuhan, Kalsel; Theresia Tutik di GKKK
Nunukan, Tarakan, Kaltara; Simran di GPMII, Kaltim.

PERGANTIAN PIMPINAN STT SAPPI
Setelah melalui beberapa tahap pemilihan, akhirnya pada hari Senin, 4
Agustus 2014, dilakukan Ibadah Pelantikan Ketua STT SAPPI sekaligus
Serah Terima Jabatan Ketua STT SAPPI dari Ketua Periode 2009-2014,
Sunarto, S.Th., M.Th. kepada Ketua yang baru, Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. Richard Liem dan dihadiri oleh Dewan
Pembina, Badan Pengawas, dan Badan Pengurus YMPD; pendukung STT SAPPI,
staf dosen, karyawan, dan juga mahasiswa STT SAPPI. Bersamaan dengan
pergantian Ketua STT SAPPI, juga terjadi beberapa reposisi untuk
beberapa jabatan, baik di tingkat pimpinan maupun staf. Setelah
pelantikan dan serah terima jabatan, untuk pertama kalinya Ketua STT
SAPPI yang baru membuka kegiatan pembelajaran pada semester gasal
2014/2015.

LANGHAM PREACHING PROGRAM
Pada awal semester gasal 2014/2015, STT SAPPI kembali mengadakan
Pelatihan Tahap I untuk Langham Preaching Program bagi mahasiswa
tingkat 2 dan 3. Pelatihan tahap I diadakan tanggal 5 – 8 Agustus 2014
dan diikuti oleh 51 orang. Mahasiswa tingkat 4 dan 5 yang telah
mengikuti tahap I harus mengikuti pembinaan lanjutan yang diadakan
pada tanggal 6 – 8 Agustus 2014. Pembinaan lanjutan ini diikuti oleh
23 orang. Kelompok pengkhotbah yang telah dibentuk dalam kegiatan ini
diharapkan dapat terus ditindaklanjuti. Kegiatan tindak lanjut ini
dikoordinasikan oleh Laboratorium Micropreaching.


WISUDA
Wisuda STT SAPPI telah dilaksanakan pada Sabtu, 23 Agustus 2014. Tema
wisuda kali ini adalah "Membangun Bangsa melalui Pelayanan Holistik"
dan orasi disampaikan oleh Pdt. Purnawan Tenibemas, Ph.D.
Wisudawan-wisudawati yang diwisuda berjumlah 9 untuk Program S1. Ada
pun nama-nama wisudawan-wisudawati tersebut adalah: Rokhani, Riska
Pratiwi, Yomin Kobak, Darinila Gea, Delyana Lepong Parura, Febriaman
Gea, Prihatin, Wahono, dan Yosi Darmawan.

KESAKSIAN PELAYANAN ALUMNI STT SAPPI

Oleh : GI. Martinus B.S dan GI. Sanita S.

PENYERTAAN-NYA TANPA BATAS
Puji dan syukur bagi Tuhan Yesus Kristus yang sudah memulai
pelayananNya di desa Sidorejo tepatnya di GPMII Petung Anugerah
Sidorejo (GPMII PAS). Memulai pelayanan di desa Sidorejo Kecamatan
Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur dengan
fasilitas yang tidak ada, sarana prasarana yang minim dan
tantangan-tantangan yang luar biasa yang boleh kami alami baik dari
dalam maupun dari luar, membuat kami kagum akan penyertaanNya yang
tanpa batas bahwa Yesus adalah Allah yang luar biasa.
Jemaat yang kami layani adalah mayoritas petani yang masih ada
hubungan keluarga satu sama lain yang membuat kami harus pelayanan
keluar untuk menjangkau banyak jiwa sehingga bisa memberi warna dalam
berjemaat.
Banyak hal yang harus kami baharui dalam kehidupan jemaat di GPMII PAS
adalah dalam hal melayani Tuhan terutama dalam hal memberi kepada
Tuhan, selain itu juga GPMII PAS sendiri belum memiliki tempat untuk
beribadah yang membuat kami berusaha untuk mengadakan tempat ibadah
itu.
Dengan melihat dan merasakan sulitnya pelayanan ini, kami tidak mundur
walaupun kadang-kadang kami merasa jenuh tapi semuanya itu terbayarkan
dengan berkat-berkat Tuhan yang tercurah untuk pelayanan kami. Selain
tantangan dari dalam jemaat ada juga tantangan dari lingkungan di mana
tahun 2009 yang lalu kami didemo oleh masyarakat yang melarang ada
gereja di desa Sidorejo. Tapi oleh pertolongan dan penyertaan Tuhan,
maka semua tantangan itu terlewati dengan baik.
Penyertaan tidak terhenti terbukti dengan sampai saat ini, kami sudah
memiliki fasilitas untuk beribadah walaupun masih sederhana, tapi kami
imani bahwa semua kerinduan kami dan jemaat untuk fasilitas ibadah
akan terpenuhi (Filipi 4:19-20).
Dalam pelayanan juga kami diperhadapkan dengan pergumulan jemaat yang
bermacam-macam di antara pergumulan ekonomi, pergumulan rumah tangga,
pergumulan ekonomi jemaat yaitu harus membantu untuk mencarikan
pekerjaan. Dan kami juga mempunyai visi dan misi adalah melayani
jiwa-jiwa yang terabaikan dan terhilang (2 Timotius 4:2) kami harus
siap sedia untuk melayani mereka yang terbuang / hilang.

ETIKA GLOBAL: REFLEKSI ETIKA KERAJAAN ALLAH

Oleh: Aeron Sihombing, M.Div

I. Pendahaluan
Bangsa Indonesia merupakan negara salah satu negara korupsi terbesar
di dunia, karena dari tingkat pemerintah pusat dan daerah terjadi
korupsi. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa didengar, bahkan
dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Para pemilik modal/kapital atau
pengusaha dapat membeli ijin dengan mudah untuk membeli lahan
produktif pertanian menjadi mall, pabrik, sehingga pasar para petani
menjadi buruh di tanahnya sendiri, pasar tradisional menjadi mati dan
mereka juga dapat membeli hukum, karena dapat menyewa pengacara dengan
uang yang besar. DPR dapat mengubah hukum sesuai dengan kepentingannya
dan yang menguntungkan dirinya sendiri dan juga golongannya. Kelompok
organisasi masyarakat yang berbasiskan agama, dapat menjadi
intoleransi dengan mengunakan kekerasan untuk menutup rumah ibadahnya
agama lain, serta aliran yang berseberangannya dengannya.
Oleh sebab itu, Eddy Paimoen mengatakan bahwa bangsa ini mengalami
krisis moral. Tidak heran bila Jokowi mengatakan bahwa bangsa
Indonesia mengalami krisis mental, sehingga yang dibutuhkan adalah
revolusi mental, agar bangsa Indonesia dapat lebih maju lagi. Maka,
penulis menyarankan bahwa salah satu jalan keluar dari krisis moral
dapat diatasi melalui etika global, yang dinyatakan oleh Hans Kung.
Dengan etika global, para pemimpin bangsa Indonesia, rakyat,
pengusaha, pejabat, rohaniawan, agama, siswa-mahasiswa, perdagangan,
bisnis, ekonomi mengalami perubahan dan memiliki rambu-rambu.
II. Prinsip etika global
Etika global merupakan suatu etika minimalis yang berisi konsensus
bersama, kritis terhadap diri sendiri, yang berhubungan dengan
realitas, yang dapat dimengerti dengan bahasa sehari-hari dan juga
berasal dari fondasi agama, di mana Golden Rule dari etika adalah
jangan memperlakukan manusia secara tidak manusiawi dan yang telah
menjadi Golden Rule dari etika global ini adalah: 'Memperlakukan orang
lain, seperti diri sendiri atau Apa yang Anda ingin lakukan terhadap
diri sendiri, lakukanlah itu kepada orang lain'. Hal ini ada di dalam
semua agama di dunia ini, di dalamnya terdapat perwujudan dari empat
perintah kuno yang ditemukan di setiap agama besar, yaitu: 'tidak
boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh berbohong, tidak
boleh menyalahgunakan seksual.'
Prinsip-prinsip etika global tersebut adalah: 1) sebagai prinsip
tatanan global atau dunia yang baru. Dunia memiliki banyak masalah,
kepentingan ekonomi, kekacauan, peperangan, membutuhkan suatu
pengikat untuk memagari, sehingga manusia (negara-negara) tidak dapat
melakukan sesuatu yang hanya menguntungkan dirinya, serta merugikan
orang lain. Maka, etika global sebagai etika minimalis sangat
dibutuhkan dalam dunia ini. Tujuannya adalah agar ada perdamaian dan
ketertiban.
2) Prinsip selanjutnya adalah manusia harus diperlakukan secara
manusiawi, yang mana ini merupakan prinsip fundamental terhadap
kemanusiaan dari etika global. Oleh sebab itu, empat hal yang harus
dilakukan: a). komitmen terhadap budaya anti kekerasan dan menghormati
setiap aspek kehidupan dari manusia: i) manusia, agama, negara tidak
boleh mengambil hidup, menyakiti, membunuh orang lain dengan kekerasan
dan mengambil nyawa orang lain, sebab ia memiliki hak untuk hidup.
Oleh sebab itu harus menghargai hidup orang lain. Hal ini diajarkan
oleh semua agama tradisional maupun; ii) tidak ada pertahanan hidup
bagi manusia, tanpa perdamaian global; iii) semangat agama yang besar
dan etika tradisional adalah menolong orang lain dan tidak dengan
kekerasan. Di dalamnya ada toleransi terhadap kaum minoritas dan
melindunginya.
3). Kemudian adalah komitmen terhadap solidaritas dan tatanan ekonomi
(a just economic order), yaitu: i) manusia tidak boleh merampas hak
milik orang lain. Hal ini merupakan ajaran dari agama besar dan juga
etika tradisional, yang mengatakan "You shall not steal", atau dalam
kata-kata yang positif "Deal honestly and fairly". Artinya tidak boleh
merampas atau mencuri hal milik seseorang ataupun suatu negara tidak
boleh mengunakan hak/miliknya tanpa memperhatikan kebutuhan sosial,
bumi ataupun orang lain; ii) tidak kedamaian global tanpa keadilan
global; iii) semangat kemanusiaannya adalah: 1) semua tujuan ekonomi
dan politik adalah untuk kemanusiaan dan bukan untuk kekejaman dan
menjajah orang lain maupun bangsa lain dan juga harus mengembangkan
semangat untuk berbelas kasihan dengan orang lain dan juga
membantunya; 2) mengusahakan dan mempertimbangkan saling menghormati
dan menghargai orang lain; 3) menilai sikap yang tidak
berlebih-lebihan dan kesederhanaan, rendah hati.
4). Komitmen terhadap budaya toleransi dan kehidupan yang benar.
Setiap orang harus bertanggungjawab untuk berbicara dan bertindak
jujur. Ia tidak boleh berbohong demi keuntungannya sendiri.
Orang-orang seperti itu harus dihargai dan dihormati. Oleh sebab itu,
empat hal yang harus dilakukan, yaitu: a) di dalam agama besar dan
etika tradisional terdapat ajaran, "you shall not lie" atau di dalam
istilah positif "speak and act truthfully". Tidak seorang pun baik
laki-laki dan perempuan, institusi, negara, gereja atau komunitas
religius yang memiliki hak untuk berbohong kepada orang lain; b) tidak
ada keadilan global, tanpa kebenaran dan kemanusiaan; c) anak-anak
muda harus belajar di rumah atau keluarga, sekolah untuk berpikir dan
berbicara jujur; d) spirit manusia yang beragama dan etika tradisional
haruslah: i) kebenaran harus diusahakan dalam hubungan dengan sesama
daripada sifat yang oppurtunis, ketidakjujuran; ii) harus mencari
kejujuran dan ketulusan; iv) harus berani melayani kebenaran dan dapat
dipercaya.
5). Komitmen terhadap budaya persamaan hak dan persekutuan antara
laki-laki dan perempuan. Semua manusia baik laki-laki dan perempuan
harus bertanggungjawab untuk menunjukkan hormat terhadap sesamanya dan
pengertian terhadap hubungan ini. Tidak seorang pun yang dapat tunduk
terhadap seseorang yang mengeksploitasi secara seksual atau jender,
melainkan persekutuan berdasarkan persamaan hak harus dikembangkan.
Maka, a) agama besar atau kuno dan etika tradisional mengajarkan "You
shall not commit sexual immorality" atau di dalam kata-kata positif
"Respect and love one another". Tidak boleh seseorang mengeksploitasi
seseorang secara seksual; b) kutukan terhadap eksploitasi seksual dan
diskriminasi seksual atau jender, sebagai penghancuran kemanusiaan; c)
relasi antara laki-laki dan perempuan harus berdasarkan kasih dan
bukan berdasarkan eksploitasi; e) institusi sosial seperti pernikahan,
meskipun berbeda budaya dan agama adalah ditandai dengan kasih,
kesetiaan dan komitmen.
6).Transformasi kesadaran dari manusia, agama, bangsa maupun negara.
Etika global dapat tercapai, apabila seluruh umat manusia, agama,
etnis, bangsa dan negara di dunia sadar bahwa etika global ini penting
untuk perdamaian dunia atau tatanan dunia yang lebih baik lagi. Tanpa
kesadaran pribadi, maka etika global ini tidak mungkin untuk
dilakukan.
III. Perjuangan etika global
Hal yang diperjuangkan dalam etika global dalam dunia ini adalah: 1)
tidak hanya kemerdekaan, tetapi juga keadilan. Hal yang dibutuhkan
adalah tatanan dunia sosial, yaitu kesetaraan manusia, tidak
membedakan kaya dan miskin, menyediakan lapangan pekerjaan,
memperjuangkan hak asasi manusia dan juga melepaskan orang yang
tertindas, hidup yang diatur oleh etika dan norma dunia, membantu
orang yang miskin dan kelaparan; 2) tidak hanya persamaan, tetapi juga
pluralitas. Menghilangkan diskriminasi seperti suku, etnis, ras,
agama, bangsa, budaya, sosial. Tidak membedakan dunia maju dan dunia
ketiga. Menghilangkan rasa antisemitisme di dalam gereja. Oleh sebab
itu, manusia membutuhkan tatanan dunia yang pluralistis;
3) tidak hanya persaudaraan/brotherhood, tetapi juga sisterhood, di
mana tidak ada lagi pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam
gereja. Memberikan ruang kepada perempuan untuk berkarya. Melepaskan
ideologi yang negatif kepada perempuan dan mengakui anugerah dan
talenta kepada perempuan dalam gereja. Jadi, manusia pada saat ini
membutuhkan tatanan dunia partnership; 4) bukan hanya hidup
berdampingan, tetapi juga perdamaian. Dunia pada saat ini membutuhkan
perdamaian dan juga jalan damai dalam menyelesaikan konflik. Maka,
solidaritas sesama manusia perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu,
ideologi perang perlu disingkirkan, dan juga membuang ideologi yang
menghina yang ilahi dan juga kemanusiaan. Membuang penyembahan
kekuasaan dan juga militarisme. Meninggalkan tindakan yang mengunakan
senjata militer, sehingga mengancam hak asasi manusia untuk hidup;
5) tidak hanya produktivitas, tetapi juga solidaritas terhadap
lingkungan hidup. Manusia tidak boleh hanya mengeksploitasi alam,
tetapi juga harus hidup berdampingan dan juga menjaganya. Oleh sebab
itu, manusia harus bersahabat dengan lingkungan alam; 6) tidak hanya
toleransi, tetapi juga ekumene. Gereja harus membuang perpecahan di
dalam gereja-gereja. Membuang kecurigaan terhadap sesama gereja.
Melupakan kepahitan masa lalu. Membuang intoleransi. Jadi, manusia
membutuhkan tatanan ekumene di dalam dunia ini.
IV. Fondasi etika global
Dasar atau fondasi dari etika global Kung adalah Yesus Kristus, di
mana Yesus mengatakan di dalam perkataan dan perbuatan-Nya bahwa Ia
melakukan kehendak Allah di muka bumi ini, yaitu kebaikan
manusia/man's well being. Inilah dasar atau landasan mengapa Yesus
datang ke dunia dan tersalib untuk menyelamatkan manusia. Semua ini
adalah demi kebaikan, kepentingan, kehormatan manusia, bukan untuk
kepentingan Allah.
Oleh sebab itu, manusia (siapapun itu, tanpa memandang suku, ras,
agama) harus dihargai dan dihormati, manusia harus diperhatikan, tidak
boleh disakiti, dihancurkan, didehumannisasi. Dengan demikian, manusia
harus dimanusiakan. Dengan kata lain, humanitas atau sifat kemanusiaan
manusia harus diperjuangkan, diperhatikan dan tidak boleh diabaikan,
bahkan ditindas oleh manusia, apalagi oleh orang Kristen. Ia
mengatakan bahwa seorang Kristen haruslah manusiawi. Apabila seorang
Kristen tidak manusiawi, maka dapat dikatakan bahwa dia bukanlah
seorang Kristen. Erasmus mengatakan bahwa seseorang yang manusiawi
belum tentu adalah seorang Kristen, tetapi seorang Kristen haruslah
humanitas/manusiawi.
Semua perkataan, ajaran, tindakan/perbuatan dan kehidupan (kelahiran,
penderitaan, kematian, kebangkitan) Yesus tersebut adalah: untuk
membebaskan manusia dari perbudakan, penindasan (sistem pemerintahan
yang menindas), penderitaan, sakit, dosa, kemiskinan secara sosial
maupun rohani. Ini adalah isi berita Kerajaan Allah yang diberitakan
oleh Yesus di dalam ajaran, perkataan, tindakan/perbuatan dan
kehidupan Yesus. Dia datang untuk membebaskan dan memerdekakan
manusia. Inilah kehendak Allah yaitu kebaikan/man's well being.
Maka, menjadi seorang Kristen harus mengikuti Yesus Kristus dan
melakukan kehendak Allah, yang memperjuangkan kebaikan manusia/man's
well being. Semuanya harus dilakukan berdasarkan kasih, yang dilandasi
oleh kasih Allah dan kasih terhadap sesama manusia: tetangga, yaitu
orang yang membutuhkan, seperti orang yang miskin, tertindas,
menderita. Kasih ini adalah kasih yang tanpa syarat.
V. Kesimpulan
Apabila etika global ini diterapkan di Indonesia, oleh para pemimpin,
pejabat, pemerintah, pegawai negeri, para pedagang, pebisnis,
siswa-mahasiswa, pengusaha, hukum, segenap bangsa Indonesia, maka
krisis moral yang dialami bangsa Indonesia dapat diperbaiki. Di
samping itu, etika global ini akan menjadi rambu-rambu yang dalam
segala sisi kehidupan, seperti dalam bidang hukum, politik, ekonomi,
pemerintahan, bisnis, dan yang lainnya.
Etika global ini adalah untuk memperjuangkan kemanusiaan, salah
satunya adalah hak asasi manusia, dengan tidak menyakiti dan mengambil
hak orang lain. Hal ini dapat dilakukan melalui hukum, sosial,
politik, agama, ekonomi yang esensinya adalah etika global. Etika
global merupakan esensi dari moralitas. Oleh sebab itu, ini merupakan
tanggungjawab bersama seluruh bangsa Indonesia, bahkan juga
tanggungjawab semua agama di Indonesia. Ini merupakan tanggungjawab
dan kewajiban seluruh Indonesia dan juga pemerintah Indonesia.

ETIKA SEBAGAI BASIS KEHIDUPAN BERGEREJA DAN BERMASYARAKAT DI INDONESIA

Oleh: Pdt. Dr. Hadi P.Sahardjo

Pendahuluan
Kehidupan orang Kristen seakan-akan terjepit di antara dua dunia yang
berbeda. Yang surgawi dan yang duniawi; yang sakral dan yang profan;
yang materi dan yang imateri antara gereja dan dunia, dan seterusnya.
Kita tidak bisa hanya mementingkan yang surgawi, lalu mengesampingkan
yang duniawi. Tidak bisa menempatkan satu yang dianggap lebih di atas
yang lain. Dua-duanya penting, meski tidak sama penting dan juga tidak
mungkin bisa melepaskan atau membuang salah satunya. Kita berada di
sana, di tengah-tengahnya. Mau tidak mau harus hidup di dalamnya,
secara seimbang. Memang idealisme besarnya tetap harus dalam
keseimbangan, tanpa harus diperbudak oleh yang duniawi.
Pada awal abad ke-5, St. Augustinus dari Hippo menulis sebuah buku
dalam bahasa Latin yang berjudul De Civitate Dei (Kota Tuhan atau Kota
Allah)—atau lengkapnya De Civitate Dei contra Paganos, "Kota Tuhan
melawan Penyembah Berhala") yang membahas tentang masalah-masalah yang
berhubungan dengan Tuhan, kemartiran, orang-orang Yahudi, dan
filosofi-filosofi Kristiani lainnya. Tujuan Augustinus dalam menulis
buku ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara agama Kristen dengan
berbagai agama dan filosofi yang bersaing dengannya, dan ditujukan
pada pemerintah Kekaisaran Romawi yang memiliki hubungan semakin erat.
Buku ini ditulis tak lama setelah peristiwa jatuhnya kota Roma kepada
kaum Visigoth pada tahun 410. Peristiwa inilah menyebabkan orang-orang
Romawi mengalami guncangan jiwa yang sangat hebat, sehingga banyak di
antara mereka yang melihat hal ini sebagai hukuman karena mereka telah
meninggalkan agama Romawi. Di dalam situasi inilah kemudian Augustinus
berencana untuk memberikan penghiburan bagi agama Kristen. Ia menulis
bahwa seandainya kekuasaan duniawi atau kekaisaran membahayakan, maka
ada Kota Tuhan yang akhirnya akan menang; secara simbolis, perhatian
Augustinus terpaku pada surga—sebuah tema yang diulang-ulang dalam
banyak karya kristiani di Abad Kuno Akhir.
Walaupun agama Kristen telah ditetapkan sebagai agama resmi Kekaisaran
Romawi, Augustinus menyatakan pesan dari buku yang ditulisnya sebagai
sesuatu yang bersifat spiritual dan bukannya politikal. Ia berargumen,
bahwa agama Kristen seharusnya lebih memperhatikan kota Yerusalem Baru
yang mistis dan surgawi daripada pada politik-politik duniawi.
Atas dasar pemikiran seperti itulah maka ketika Penulis diminta untuk
menulis artikel bertajuk Etika sebagai Basis Kehidupan Bergereja dan
Bermasyarakat di Indonesia segera terlintas dalam pikiran Penulis,
bahwa sebagai warga negara Indonesia yang kebetulan adalah orang-orang
Kristen, maka sudah sepantasnya kalau kita juga bisa menempatkan diri
secara bijak selaku warga gereja dan warga negara. Dalam hal ini etika
harus menjadi moda penataan dan sikap yang mengatur kehidupan
bergereja serta berbangsa dan bernegara.

Perlunya Etika dalam Kehidupan Bergereja dan Bermasyarakat
Akhir-akhir ini banyak "gereja" dengan berbagai label yang bermunculan
bak jamur di musim penghujan. Mulai dari yang berbentuk persekutuan,
kebaktian di rumah-rumah, ruko-ruko, hotel-hotel atau bahkan di
gedung-gedung pertemuan. Dari yang legal (berizin) sampai dengan yang
"ilegal". Di satu sisi, kita memang patut bersyukur dengan banyaknya
tempat ibadah yang bermunculan. Tetapi di sisi lain kita pun menjadi
prihatin mengapa harus muncul gereja-gereja baru, sementara masih
banyak juga gedung gereja yang belum terisi penuh oleh jemaat yang
beribadah, padahal mereka juga memakai label atau nama yang sama? Tak
mengherankan kalau akhirnya justru banyak tempat ibadah Kristen (baca:
gereja) yang dirusak atau ditutup paksa oleh masa. Kita lalu merasa
sebagai umat yang didzolimi, umat minoritas yang teraniaya. Pikiran
ini bisa benar, tetapi juga bisa salah, tergantung dari sisi mana
menilainya. Salah satu sebabnya justru mungkin oleh karena gereja
kurang memerhatikan bagaimana relasi terhadap gereja dan masyarakat di
sekitarnya.
Etika Relasi: Suatu Keharusan
Apa yang Penulis katakan di muka sebenarnya hendak mengajak—anak-anak
Tuhan, murid Tuhan, hamba Tuhan, untuk sungguh-sungguh dapat memahami
sekaligus memraktikkan, bahwa dalam tata pergaulan dalam bermasyarakat
dan bergereja memang memerlukan modal relasi, dan itu adalah etika.
Sebagai orang Kristen, kita yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dengan masyarakat secara utuh yang demikian majemuk—baik dari segi
suku atau ras, agama, bahasa, daerah, budaya dan sosio-kultural dan
sebagainya. Harus tunduk—bukan kompromi—pada tatakrama pergaulan
masyarakat secara umum. Orang Kristen tidak bisa bersikap eksklusif,
merasa diri lebih baik dari kelompok masyarakat lainnya sehingga
menarik diri dari pergaulan atau menghindari "perjumpaan" dengan
mereka.
"Berikan kepada Kaisar ..."
Ketika Tuhan Yesus mengatakan pernyataan ini tidak sekedar meminta
agar para murid itu memiliki tanggung jawab terhadap pemerintah dalam
hal memberi pajak, melainkan lebih kepada bagaimana seharusnya
mereka—dan kita—bersikap secara tepat terhadap pemerintah atau negara
di mana kita tinggal (Matius 22:15-22; Markus 12:13-17; Lukas
20:20-26). Artinya para murid dan orang-orang Kristen tidak ada alasan
untuk tidak taat kepada pemerintah sebagai lembaga negara yang
dipercayai oleh Tuhan untuk memerintah umat-Nya. Atau sebaliknya kita
juga tidak berhak untuk menuntut diperlakukan sebagai warga negara
kelas satu, mengatasi kelompok masyarakat lainnya.
Menjadi Garam dan Terang
Ada dua adagium yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yang sebenarnya
merupakan suatu perintah tetapi juga sekaligus merupakan suatu
pengajaran yang mengandung nilai etika kehidupan serta pergaulan
dalam bermasyarakat, yaitu untuk menjadi garam dan terang (Matius
5:13-16). Ayat-ayat ini merupakan salah satu bagian Alkitab yang
paling banyak dikhotbahkan. Memang mudah dan enak untuk dikhotbahkan
atau diajarkan, tetapi sulit untuk benar-benar dilaksanakan.
Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16).
Kedua nama binatang ini sering muncul di Alkitab, baik dalam
Perjanajian Lama maupun Perjanjian Baru. Ular hampir selalu
diidentikkan dengan hal-hal yang jahat dan buruk; sementara merpati
hampir selalu menunjuk mewakili hal-hal yang baik, yang berkarakter
baik. Bahkan merpati juga bisa menjadi salah satu binatang yang
diperkenan Tuhan untuk dijadikan sebagai binatang persembahan. Tetapi
anehnya, secara bersamaan, Tuhan Yesus memakai kedua binatang itu
sebagai simbol yang positif bagi para murid-Nya, yaitu: "cerdik
seperti ular dan tulus seperti burung merpati." Dua sifat yang harus
dimiliki oleh para pengikut Tuhan Yesus dalam berinteraksi dengan
masyarakat, khususnya dalam melayani atau memberitakan Injil.
"Kasihilah musuhmu ... kasihilah sesamamu ..." (Matius 5:44; Lukas
6:27, 35; Matius 22:39).
Sebenarnya yang menjadi bagian penting dan pengikat dalam etika
Kristen adalah kasih, sebagaimana juga selalu dikumandangkan oleh
Tuhan Yesus dalam berbagai kesempatan. Kasih pulalah yang menjadi ciri
khas kehidupan kekristenan yang berbeda dengan orang-orang lain. Hanya
dalam kekristenan kita diajar untuk mengasihi, bahkan terhadap musuh
kita sekalipun. Kasih juga merupakan hukum baru yang diajarkan oleh
Tuhan Yesus, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya
kamu saling mengasihi: sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian
pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Oleh karena itu
dalam etika Kristen, kasih selalu berhubungan erat dengan sang
Juruselamat yang menciptakan dunia baru yang memungkinkan adanya
kasih. Jadi, kita seharusnya mengasihi sama seperti Dia mengasihi
kita, dan juga oleh karena Dia mengasihi kita.
Malcolm Brownlee pernah menuliskan ada empat unsur dalam kasih Kristus
yang memengaruhi tugas orang Kristen dalam masyarakat. Pertama, kasih
berarti penghargaan pada kehidupan setiap orang, dan itu sangat
penting. Oleh karena itu, kasih Kristen tidak bergantung pada jasa,
kelas sosial, sikap atau kerja orang yang dikasihi. Arti kasih
dinyatakan oleh Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Allah, "menerbitkan
matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan
hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45).
Kedua, kasih bukanlah sikap batin saja, melainkan perlu
diwujudnyatakan dalam perbuatan yang konkret. Kasih tidak bisa
disamakan dengan perbuatan-perbuatan baik semata, karena kasih harus
muncul dari kemauan kita, dari dasar hati yang paling dalam. Tanpa
itu, kasih hanyalah omong kosong. Sama dengan perbuatan baik saja,
sehingga apa pun yang kita buat atau berikan kepada orang lain,
termasuk menyerahkan tubuh untuk dibakar, semua adalah perbuatan yang
sia-sia (1Korintus 13:3). Kasih harus disertai dengan perbuatan yang
konkret, mengasihi orang lain (Lukas 6:27). Ingat pula perumpamaan
tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Ketiga, kasih
juga berari suatu kepekaan terhadap kebutuhan dan penderitaan sesama.
Seringkali kita buta terhadap perasaan dan penderitaan orang lain.
Kalau kasih ada dalam diri orang Kristen, maka—seperti kata
Paulus—orang Kristen pasti akan bersukacita dengan orang yang
bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15).
Keempat, kasih yang sejati tidak hanya terbatas bagi kaum kerabat atau
sahabat dekat, tetapi kepada semua orang, tanpa kecuali. Itulah kasih
yang sempurna. Tetapi untuk itu, orang Kristen tidak harus lalu
berubah menjadi messianic syndrome, selalu mau mengorbankan dirinya,
mau menderita untuk orang lain—dalam segala hal sampai sama sekali
tidak mau peduli dengan dirinya. Cukup yang sewajarnya saja.
Penutup
Penulis yakin, jika orang Kristen melakukan tindakan-tindakan tersebut
secara benar, maka relasi kehidupan orang Kristen baik di tengah
masyarakat maupun di dalam gereja, niscaya akan menjadi berkat.
Sehingga akhirnya dunia akan berkata seperti yang dikatakan oleh
sebuah lagu, ... and they'll know that we are Christian in the world.
Pada akhirnya mereka, semua orang akan tahu, bahwa kita adalah
orang-orang Kristen! Dengan cara bagaimana? Menjaga kesaksian hidup
dalam perkataan dan perbuatan kita supaya berkenan kepada Allah. Anda
sudah siap?

HAK DAN KEWAJIBAN

Oleh: Sunarto, S.Th, M.Th

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi." MATIUS 7:12


Salah satu topik yang sering dibicarakan dalam masyarakat adalah
masalah "hak dan kewajiban ". Sayangnya seseorang lebih senang
membicarakan hak dari pada kewajiban. Hak lebih senang dibicarakan
karena berkaitan dengan pemberian dari seseorang atau lembaga yang
diberikan kepada seseorang. Misalnya hak untuk mendapatkan gaji dari
pekerjaannya, hak mendapatkan hari libur, hak untuk mendapatkan cuti,
hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dan lain sebagainya.
Membicarakan hak saja tidak berimbang, bahkan bisa menimbulkan masalah
kalau hal itu tidak dikaitkan dengan "kewajiban". Bukankah dalam
masyarakat sering terjadi kericuhan apabila yang dipikirkan adalah
menuntut hak, dan tidak memikirkan tentang kewajiban yang harus
dipenuhi juga. Para buruh pabrik akan ricuh dengan pihak perusahaan,
jika masing-masing hanya menuntut haknya. Suami isteri akan terancam
bubar jikalau masing-masing hanya menuntut haknya saja. Guru dan murid
akan kacau jikalau masing-masing hanya menuntut haknya saja. Jalan
raya akan kacau jikalau masing-masing pengguna jalan raya hanya
memikirnya hak sendiri.
Hak membicarakan apa yang harus didapatkan dan kewajiban membicarakan
tanggung jawab apa yang harus dipenuhi. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia "hak" dapat diartikan kekuasaan untuk berbuat sesuatu
(karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb), kekuasaan
yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu. Sedangkan
kewajiban dapat diartikan (sesuatu) yang diwajibkan; sesuatu yang
harus dilaksanakan; keharusan; pekerjaan; atau tugas.
Membahas "hak" tidak dapat dipisahkan dengan membahas "kewajiban",
apakah itu sebagai satu pribadi, satu komunitas masyarakat, perusahan,
lembaga atau pemerintah. Hak dan kewajiban merupakan dua aspek
kehidupan bukan hanya berkaitan sebagai warga negara di dalam
masyarakat saja, tetapi juga menyangkut semua apek dalam kehidupan
manusia. Jauh sebelum abad modern meramaikan tentang pembahasan topik
tersebut, Yesus sudah berbicara lebih dulu dalam kotbah yang
disampaikan kepada para murid atau yang disebut kotbah diatas bukit.
Pengajaran tentang hak dan kewajiban merupakan inti atau kesimpulan
dari keseluruhan hukum Taurat dan kitab para nabi. Inti dari dari
keseluruhan hukum Taurat dan kitab para nabi yaitu "mengasihi Allah
dan sesamanya." Kasih kepada sesama akan berjalan harmonis jika
manusia mengerti akan hak dan kewajibannya.
Sebaliknya kehidupan akan terjadi banyak kericuhan dan kekerasan jika
masing-masing orang hanya menuntut haknya saja. Kericuhan dan
pertengkaran bisa terjadi dalam kehidupan ini karena seseorang tidak
bisa memahami dengan benar berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dalam
konteks hukum Taurat tidak akan memandu manusia jikalau inti dari
hukum Taurat diabaikan, yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Kealpaan dalam memaknai hukum Taurat itu yang diingatkan Yesus kepada
para pemimpin agama dan orang-orang Yahudi. "Segala sesuatu yang kamu
kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga
kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Seolah-olah Yesus ingin bertanya kepada para pendengarnya, apakah kamu
menginginkan sesuatu yang baik, hasil kerja yang baik, tanggapan yang
baik, penghormatan yang baik. Jika saya menginginkan sesuatu baik
dalam diri saya, lakukanlah kewajibanmu dengan baik pula.
Pada bagian yang lainpun Yesus memberikan pembenaran bahwa negara atau
kerajaan berhak memungut pajak dari rakyat. Rakyat mempunyai kewajiban
untuk membayar pajak kepada negara. Kewajiban membayar pajak bukan
hanya ditujukan kepada negara saja, dalam hal keagamaan umat juga
mempunyai tanggung jawab untuk memberikan persembahan untuk aktivitas
keagamaan di Bait Allah. Demikian dicatat dalam Alkitab ketika Yesus
tiba di Kapernaum, pemungut pajak datang dan bertanya kepada Petrus,
salah seorang murid Yesus, "Apakah Gurumu juga akan membayar pajak
Bait Allah?" Petrus menjawab, "Ya, Dia akan membayar pajak" (Matius
17:24-27).
Yesus mengembalikan makna yang benar tentang arti hak dan kewajiban
yang sering diselewengkan oleh manusia. Kalau kita menginginkan
sesuatu yang baik, lakukanlah kewajibanmu lebih dahulu dengan baik
pula. Faktanya keinginan tersebut kadang tidak menjadi kenyataan di
dalam kehidupan seseorang. Respon yang didapat bukan kebaikan, bukan
kehormatan, bukan kata-kata yang manis, tetapi justru banyak
kesukaran. Kalau begitu bertanyalah kepada dirimu sendiri apakah kita
sudah sudah melakukan hukum-hukum Allah. Hukum-hukum Allah yang sudah
diwahyukan oleh Allah dalam Alkitab bukan ditulis untuk orang lain
saja, tetapi juga untuk diri saya. Maka jelaslah sebelum kita menuntut
apa yang menjadi hak kita, maka lakukanlah kewajibanmu terlebih
dahulu.

Kamis, 12 Januari 2012

POKOK DOA

1.    Bersyukur untuk kegiatan semester genap 2010/2011 yang lalu dapat berjalan dengan lancar.
2.    Bersyukur untuk praktik pelayanan 2 bulan para mahasiswa tingkat 1 dan tingkat 2 yang telah berlangsung sejak 31 Mei dan berakhir pada tanggal 23 Juli 2011. Kiranya melalui pelayanan ini, para mahasiswa dapat mengalami kemajuan sebagai pekerja Kristus baik dalam kecakapan melayani maupun dalam karakter.
3.    Berdoa untuk mahasiswa praktek 1 tahun yang telah diutus ke berbagai tempat di Indonesia, agar mereka dapat menunaikan pelayanan di ladang Tuhan di bawah bimbingan para gembala sidang/mejelis jemaat di mana pun mereka diutus. Kita berdoa agar mereka bertumbuh dalam segala hal kearah Kristus dan pelayanan mereka menjadi berkat yang besar bagi negeri ini.
4.    Bersyukur jika pada tanggal 21-22 Juli 2011 telah dilangsungkan ujian negara bagi 13 alumni STT SAPPI. Semoga melalui ujian negara dan memperoleh ijasah negara, para alumni STT SAPPI mendapat kepercayaan dari kalangan yang lebih luas dalam mengemban tanggung jawab membawa suara kenabian di segala bidang pelayanan yang dipercayakan.
5.    Berdoa untuk kegiatan belajar mengajar pada semester ganjil TA 2011/2012, agar para staf pengajar, mahasiswa dan semua bagian dapat bekerja sama dan sehati untuk mencapai hasil yang terbaik.
6.    Berdoa untuk mahasiswa baru STT SAPPI yang berjumlah 24 orang, berasal dari Nias (Sumut), Lampung, Purwokerto, Magelang (Jateng), Banggai Kepulauan (Sulteng), Mamasa, Mamuju (Sulbar), Toraja (Sulsel), Kupang (NTT), dan Sentani (Papua). Berdoa agar mereka memiliki kemantapan hati untuk mengikuti pendidikan di STT SAPPI dan dapat menyelesaikan studi tepat waktu dan berprestasi gemilang.
7.    Bersyukur untuk acara Wisuda yang diadakan pada tanggal 13 Agustus 2011, telah berjalan dengan baik dan lancar.
8.    Berdoa untuk keamanan lingkungan sekitar kampus. Berdoa agar seluruh keluarga besar STT SAPPI dapat menjaga kesaksian hidup dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar kampus. Berdoa untuk unsur-unsur tertentu di masyarkat sekitar kampus yang mempunyai agenda tertentu untuk menghambat pekerjaan Tuhan di STT SAPPI dan di Desa Kertajaya dan sekitarnya.
9.    Berdoa bagi pemerintah pusat dan daerah (Presiden,Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, sampai kepala desa di seluruh Indonesia), agar memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan dalam mengemban tugas pemerintahan/kenegaraan bagi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Berita STT SAPPI

Mahasiswa yang mengikuti Ujian Skripsi (S1)

Selama semester genap TA 2010/2011 telah diadakan ujian skripsi untuk mahasiswa. Adapun mahasiswa yang telah menyelesaikan penulisan dan telah mempertanggungjawabkan skripsi mereka adalah:
1.    Natalia Suwarni, dengan judul skripsi “Pelayanan Anak dalam Perspektif Tuhan Yesus dan Penerapannya bagi Gereja Masa Kini”.
2.    Nolgi Fanco Pindeno, dengan judul skripsi “Studi Pertumbuhan Gereja di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon Ditinjau dari Segi Kualitas dan Kuantitas”.
3.    Agung Setio, dengan judul skripsi “Pendekatan Penginjilan kepada Masyarakat Jawa Banyumasan oleh Tim Selatan-Selatan”.
4.    Lenny Marista Lubis, dengan judul skripsi “Dasar Keutuhan Keluarga Kristen Ditinjau dari Mazmur 128 dan Aplikasinya pada Masa Kini”.
5.    Ronald, dengan judul skripsi “Pendekatan Paulus dalam Mengatasi Perpecahan Jemaat      Berdasarkan I Korintus dan Relevansinya terhadap Pelayanan Masa Kini”.
6.    Kaventius dengan judul skripsi “Pelayanan Yesus terhadap Kaum Marginal Ekonomi Ditinjau dari Kitab-Kitab Injil”.
7.    Yanris Yuneor Bureni, dengan judul “Pelayanan Pastoral menurut Rasul Paulus dan Penerapannya bagi Gereja Masa Kini (I dan II Timotius dan Titus)”.
8.    Liberty Hamonangan Simandjuntak, dengan judul skripsi “Pengaruh Kepemimpinan Gereja Lokal terhadap Proses Kedewasaan Rohani Jemaat di Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPdI) Filadelfia, Marga Asih, Bandung”.
9.    Warsiti, dengan judul skripsi “Memahami Konsep Keselamatan Agama Hindu Desa Karyasari dalam Upaya Pemberitaan Injil Secara Kontekstual”.

Mahasiswa yang mengikuti Ujian Negara (S1)
Pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2011 telah dilaksanakan Ujian Negara Skripsi. Jumlah peserta yang didaftarkan adalah 21 orang, tetapi yang hadir dan mengikuti ujian ada 13 orang, yaitu: Agung Setio; Lenny Marista Lubis, Natalia Suwarni, Nolgi Fanco Pindeno, Ronald, Yanris Yuneor Bureni, Muktiali, Satrisno, Yuliana Uru Emu, Kalimah, Liberty Hamonangan Simandjuntak, Yuliana Bittoen, Robi Prianto.

Dosen yang menjadi penguji ada 4 orang, yaitu: Sunarto, S.Th., M.A., Ir. Herlambang PS., M.Si., D. Franklyn Purba, S.T.P, dan Adrianus, S.T., M.A. Sedangkah pengawas dari Kemenag RI ada 1 orang, yaitu Yunus Doloe, M.M.

Mahasiswa yang Praktik Pelayanan

Bersamaan dengan Ibadah Penutupan Semester Genap TA 2010 / 2011 pada tanggal 27 Mei 2011, telah dilakukan pengutusan untuk mahasiswa praktik pelayanan, baik 2 bulan di sekitar Ciranjang, 2 bulan di luar Ciranjang, 6 bulan, maupun 1 tahun. Adapun tempat praktik yang telah ditetapkan adalah :
1)    Tempat praktik pelayanan 2 bulan untuk mahasiswa Tk 1 (31 Mei s/d 23 Juli 2011) : GBI Jatinunggal, GPdI Pasir Nangka, GKP Palalangon, GKP Sindangjaya, GSPdI Filadelfia, GPI Eliezer, GKP Ciranjang, GPdI Cipatat.
2)    Tempat praktik pelayanan 2 bulan untuk mahasiswa Tk 2 (31 Mei s/d 23 Juli 2011) : Yayasan Perintis Mission Gunung Wilis, Tulungagung, Jatim; GSJA Binangun, Blitar, Jatim; PIPKA Sumbagsel; GITJ Ngablak, Pati, Jateng; GKA Zion Denpasar, Bali; GKSBS Tanjung Bintang, Lampung.
3)    Tempat praktik pelayanan 6 bulan untuk mahasiswa Tk 3 (Juli s/d Desember 2011) : GPdI Sumber Manggis, Banyuwangi, Jatim.
4)    Tempat praktik pelayanan 1 tahun untuk mahasiswa Tk 3 (Juli 2011 s/d Juni 2012) : PIPKA Morowali, Sulteng; GKKA Kutai Barat, Kaltim; Yayasan MIKA, Kalbar; Gepembri, Kalbar; GBI Buntu Buda, Mamasa, Sulbar; PPMT Wilfinger, Kaltim; GPdI Kalvari Osango, Mamasa, Kalbar; GKI Bogor, Jabar; Suku Wana, Sulteng; dan GKAI Sumberjambe, Banyuwangi, Jatim.

Semiloka

STT SAPPI telah melaksanakan Semiloka dengan topik “Penyusunan Program Pelayanan” pada hari Jumat, 25 Maret 2011. Tim fasilitator dalam kegiatan ini adalah dari GKIm Hosanna Bandung. Peserta dalam semiloka merupakan majelis jemaat dan aktivitas Gereja Kristen Pasundan (GKP) Sindangjaya, serta mahasiswa STT SAPPI tingkat akhir (sedang menyusun skripsi).

Program Pelatihan Intensif Pertanian (PROGSIF XIII/2011)

rogram Pelatihan Intensif Pertanian (Progsif XIII/2011) telah dilaksanakan pada tanggal 6 Juni s/d 2 Juli 2011. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 42 orang, tetapi yang berhasil menyelesaikan program ada 41 orang. Peserta pelatihan tersebut berasal dari 13 provinsi, Aceh (2 orang); Sumut (8 orang); Lampung (2 orang); Kalbar (8 orang); DKI Jakarta (4 orang); Jabar (6 orang); Jateng (3 orang); Bali (1 orang); NTT (1 orang); Sulbar (2 orang); Sulsel (3 orang); Maluku (1 orang); dan Papua (1 orang).
Adapun materi yang diberikan pada pelatihan Progsif XIII ini adalah: UnveilinGlory (Peter Hidayat, B.Sc); Konsep Misi Holistik (Suryo Pancoro Nugroho); Micro Enterprise Development (Yayasan Dian Mandiri, Tangerang, Banten); Sistem Pertanian Organik (Ir. Y.P. Sudaryanto); Sistem Agribisnis di Indonesia (Dr. Ir. Bambang Sayaka, M.Sc.); Ternak Babi (Sauland Sinaga, S.Pt., M.Si); Ternak Ruminansia dan Biogas (Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc.); Teknik Pembiakan Vegetatif (Bp. Ngatari); Tanaman Hortikultura, Herbal dan Pemanfaatannya (Ir. Endang Setia M., M.Si); Ternak Unggas (Ir. Timbul Sihombing); Budidaya Perikanan, Teknik Perkolaman (Ir. Hidayat Eliazar); Pengelolaan Sumberdaya Air (Drs. Suharyono Santoso, M.T.); Teknologi Pangan Nabati, Teknologi Pangan Hewani (Dr. Ir. Hardoko, M.S.); Budiday Jamur (Yulius Selan, S.Th.); Program Pemberdayaan Masyarakat (Dr. Ir. Djuara Lubis, M.Sc); Dinamika Kelompok, Teknik PRA (Ir. Herlambang PS., M.Si); Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (Pdt. Ir. Andrias Hans, S.Th.).

Penerimaan Mahasiswa Baru

Pada Tahun Akademik 2011/2012, jumlah mahasiswa yang diterima adalah 22 orang dan 1 orang mahasiswa transfer dari program Diploma 2 STT SAPPI. Mahasiswa tersebut terdiri dari 14 orang pria dan 9 orang wanita. Adapun nama-nama mahasiswa baru tersebut adalah Adrialina Bapisa, Hepriwanto Ludani, Man Yudama, Pelna Polibaon, Serli Kidolite (Sulteng); Dorkas Ranggabulawan, Gunarto, Natalia Lombayani, Sogeati (Sulbar); Aprison Naisanu, Jemson Naisanu (NTT); Apriyanti, Wiwit Didik Setiadji, Yokanan Tulus Pracoyo (Jateng), Famalua Gea, Fanotona Dohona, Yarni Tevis Hulu (Sumut); Indah Hayati (Lampung); Selpanus Gidion, Yugimas (Kalbar), Joni Urop, Yulianus Rokotkay (Papua). Sedangkan mahasiwa transfer dari program Diploma 2 STT SAPPI adalah Felix Herry Sugono yang pelayanan di GKNI Kalimantan Barat.

Pelatihan Teknologi Pangan

Pada tanggal 24-25 Maret 2011 telah diadakan Pelatihan Teknologi Pangan untuk mahasiswa STT SAPPI. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama STT SAPPI dengan Tim Pemberdayaan Masyarakat Universitas Pelita Harapan (UPH). Materi yang diberikan adalah pengolahan ubi jalar dan rempah-rempah.

Pelatihan Pertanian

Pada tanggal 16-21 Mei 2011 telah diadakan Pelatihan Pertanian (Padi) di PPMT Wilfinger (Kalimantan Timur). Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan PPMT Wilfinger Kalimantan Timur.

Upacara Bendera

Pada tanggal 17 Agustus telah diadakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-66. Upacara di pimpin oleh Bapak Ev. Sunarto, M.A dan diikuti oleh seluruh jajaran dosen dan civitas akademika STT SAPPI. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan perlombaan-perlombaan untuk memeriahkan perayaan HUT RI ke -66.

Wisuda STT SAPPI

Pada tanggal 13 Agustus 2011, STT SAPPI telah menyelenggarakan Acara Wisuda ke-8 untuk Program Diploma 3 dan Wisuda ke-3 untuk Program Sarjana. Wisuda ini diikuti oleh 31 orang wisudawan yang terdiri dari 18 orang wisudawan untuk Program Diploma dan 13 orang wisudawan untuk Program Sarjana. Adapun wisudawan dalam program Diploma adalah Kezia Priskila Magany, Beni Kuswoyo, Desi Chrismayani, Gustin Petra Yanti Benu, Gustriadi, Impran Nurwoko, Lulus Rahayu, Natalia, Veronica Rulli Sintami, Janrianto Purba, Agustinus Sandi, Ester Susilowati, Mesrawati Gea, Nani Mangonting, Ni Kadek Murtiani, Oskar, Riki Estomo, Tety Dewi Jayanti Zendrato. Sedangkan wisudawan untuk Program Sarjana adalah Ahmad, Kalimah, Robi Prianto, Yuliana Bittoen, Natalia Suwarni, Nolgi Fanco Pindeno, Agung Setio, Lenny Marista Lubis, Ronald, Yanris Yuneor Bureni, Liberty Hamonangan Simandjuntak, Kaventius, dan Warsiti.
Orasi dalam acara wisuda ini dibawakan oleh Pdt. Dr. Robert P. Borrong dengan tema “Peran dan Tanggung Jawab Hamba Tuhan dalam Era Post Modern”, dengan nats yang diambil dari I Raja-Raja 3:9.