Buletin MITRA (BuMi) diterbitkan oleh SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STUDI ALKITAB UNTUK PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA (STT-SAPPI), sebagai media komunikasi dan informasi antara pekerja, pemerhati, pemikir dan masyarakat umum yang terbeban dalam pengembangan pedesaan di Indonesia secara utuh. Terbit tiga bulan sekali.

Kamis, 12 Januari 2012

POKOK DOA

1.    Bersyukur untuk kegiatan semester genap 2010/2011 yang lalu dapat berjalan dengan lancar.
2.    Bersyukur untuk praktik pelayanan 2 bulan para mahasiswa tingkat 1 dan tingkat 2 yang telah berlangsung sejak 31 Mei dan berakhir pada tanggal 23 Juli 2011. Kiranya melalui pelayanan ini, para mahasiswa dapat mengalami kemajuan sebagai pekerja Kristus baik dalam kecakapan melayani maupun dalam karakter.
3.    Berdoa untuk mahasiswa praktek 1 tahun yang telah diutus ke berbagai tempat di Indonesia, agar mereka dapat menunaikan pelayanan di ladang Tuhan di bawah bimbingan para gembala sidang/mejelis jemaat di mana pun mereka diutus. Kita berdoa agar mereka bertumbuh dalam segala hal kearah Kristus dan pelayanan mereka menjadi berkat yang besar bagi negeri ini.
4.    Bersyukur jika pada tanggal 21-22 Juli 2011 telah dilangsungkan ujian negara bagi 13 alumni STT SAPPI. Semoga melalui ujian negara dan memperoleh ijasah negara, para alumni STT SAPPI mendapat kepercayaan dari kalangan yang lebih luas dalam mengemban tanggung jawab membawa suara kenabian di segala bidang pelayanan yang dipercayakan.
5.    Berdoa untuk kegiatan belajar mengajar pada semester ganjil TA 2011/2012, agar para staf pengajar, mahasiswa dan semua bagian dapat bekerja sama dan sehati untuk mencapai hasil yang terbaik.
6.    Berdoa untuk mahasiswa baru STT SAPPI yang berjumlah 24 orang, berasal dari Nias (Sumut), Lampung, Purwokerto, Magelang (Jateng), Banggai Kepulauan (Sulteng), Mamasa, Mamuju (Sulbar), Toraja (Sulsel), Kupang (NTT), dan Sentani (Papua). Berdoa agar mereka memiliki kemantapan hati untuk mengikuti pendidikan di STT SAPPI dan dapat menyelesaikan studi tepat waktu dan berprestasi gemilang.
7.    Bersyukur untuk acara Wisuda yang diadakan pada tanggal 13 Agustus 2011, telah berjalan dengan baik dan lancar.
8.    Berdoa untuk keamanan lingkungan sekitar kampus. Berdoa agar seluruh keluarga besar STT SAPPI dapat menjaga kesaksian hidup dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar kampus. Berdoa untuk unsur-unsur tertentu di masyarkat sekitar kampus yang mempunyai agenda tertentu untuk menghambat pekerjaan Tuhan di STT SAPPI dan di Desa Kertajaya dan sekitarnya.
9.    Berdoa bagi pemerintah pusat dan daerah (Presiden,Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, sampai kepala desa di seluruh Indonesia), agar memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan dalam mengemban tugas pemerintahan/kenegaraan bagi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Berita STT SAPPI

Mahasiswa yang mengikuti Ujian Skripsi (S1)

Selama semester genap TA 2010/2011 telah diadakan ujian skripsi untuk mahasiswa. Adapun mahasiswa yang telah menyelesaikan penulisan dan telah mempertanggungjawabkan skripsi mereka adalah:
1.    Natalia Suwarni, dengan judul skripsi “Pelayanan Anak dalam Perspektif Tuhan Yesus dan Penerapannya bagi Gereja Masa Kini”.
2.    Nolgi Fanco Pindeno, dengan judul skripsi “Studi Pertumbuhan Gereja di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon Ditinjau dari Segi Kualitas dan Kuantitas”.
3.    Agung Setio, dengan judul skripsi “Pendekatan Penginjilan kepada Masyarakat Jawa Banyumasan oleh Tim Selatan-Selatan”.
4.    Lenny Marista Lubis, dengan judul skripsi “Dasar Keutuhan Keluarga Kristen Ditinjau dari Mazmur 128 dan Aplikasinya pada Masa Kini”.
5.    Ronald, dengan judul skripsi “Pendekatan Paulus dalam Mengatasi Perpecahan Jemaat      Berdasarkan I Korintus dan Relevansinya terhadap Pelayanan Masa Kini”.
6.    Kaventius dengan judul skripsi “Pelayanan Yesus terhadap Kaum Marginal Ekonomi Ditinjau dari Kitab-Kitab Injil”.
7.    Yanris Yuneor Bureni, dengan judul “Pelayanan Pastoral menurut Rasul Paulus dan Penerapannya bagi Gereja Masa Kini (I dan II Timotius dan Titus)”.
8.    Liberty Hamonangan Simandjuntak, dengan judul skripsi “Pengaruh Kepemimpinan Gereja Lokal terhadap Proses Kedewasaan Rohani Jemaat di Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPdI) Filadelfia, Marga Asih, Bandung”.
9.    Warsiti, dengan judul skripsi “Memahami Konsep Keselamatan Agama Hindu Desa Karyasari dalam Upaya Pemberitaan Injil Secara Kontekstual”.

Mahasiswa yang mengikuti Ujian Negara (S1)
Pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2011 telah dilaksanakan Ujian Negara Skripsi. Jumlah peserta yang didaftarkan adalah 21 orang, tetapi yang hadir dan mengikuti ujian ada 13 orang, yaitu: Agung Setio; Lenny Marista Lubis, Natalia Suwarni, Nolgi Fanco Pindeno, Ronald, Yanris Yuneor Bureni, Muktiali, Satrisno, Yuliana Uru Emu, Kalimah, Liberty Hamonangan Simandjuntak, Yuliana Bittoen, Robi Prianto.

Dosen yang menjadi penguji ada 4 orang, yaitu: Sunarto, S.Th., M.A., Ir. Herlambang PS., M.Si., D. Franklyn Purba, S.T.P, dan Adrianus, S.T., M.A. Sedangkah pengawas dari Kemenag RI ada 1 orang, yaitu Yunus Doloe, M.M.

Mahasiswa yang Praktik Pelayanan

Bersamaan dengan Ibadah Penutupan Semester Genap TA 2010 / 2011 pada tanggal 27 Mei 2011, telah dilakukan pengutusan untuk mahasiswa praktik pelayanan, baik 2 bulan di sekitar Ciranjang, 2 bulan di luar Ciranjang, 6 bulan, maupun 1 tahun. Adapun tempat praktik yang telah ditetapkan adalah :
1)    Tempat praktik pelayanan 2 bulan untuk mahasiswa Tk 1 (31 Mei s/d 23 Juli 2011) : GBI Jatinunggal, GPdI Pasir Nangka, GKP Palalangon, GKP Sindangjaya, GSPdI Filadelfia, GPI Eliezer, GKP Ciranjang, GPdI Cipatat.
2)    Tempat praktik pelayanan 2 bulan untuk mahasiswa Tk 2 (31 Mei s/d 23 Juli 2011) : Yayasan Perintis Mission Gunung Wilis, Tulungagung, Jatim; GSJA Binangun, Blitar, Jatim; PIPKA Sumbagsel; GITJ Ngablak, Pati, Jateng; GKA Zion Denpasar, Bali; GKSBS Tanjung Bintang, Lampung.
3)    Tempat praktik pelayanan 6 bulan untuk mahasiswa Tk 3 (Juli s/d Desember 2011) : GPdI Sumber Manggis, Banyuwangi, Jatim.
4)    Tempat praktik pelayanan 1 tahun untuk mahasiswa Tk 3 (Juli 2011 s/d Juni 2012) : PIPKA Morowali, Sulteng; GKKA Kutai Barat, Kaltim; Yayasan MIKA, Kalbar; Gepembri, Kalbar; GBI Buntu Buda, Mamasa, Sulbar; PPMT Wilfinger, Kaltim; GPdI Kalvari Osango, Mamasa, Kalbar; GKI Bogor, Jabar; Suku Wana, Sulteng; dan GKAI Sumberjambe, Banyuwangi, Jatim.

Semiloka

STT SAPPI telah melaksanakan Semiloka dengan topik “Penyusunan Program Pelayanan” pada hari Jumat, 25 Maret 2011. Tim fasilitator dalam kegiatan ini adalah dari GKIm Hosanna Bandung. Peserta dalam semiloka merupakan majelis jemaat dan aktivitas Gereja Kristen Pasundan (GKP) Sindangjaya, serta mahasiswa STT SAPPI tingkat akhir (sedang menyusun skripsi).

Program Pelatihan Intensif Pertanian (PROGSIF XIII/2011)

rogram Pelatihan Intensif Pertanian (Progsif XIII/2011) telah dilaksanakan pada tanggal 6 Juni s/d 2 Juli 2011. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 42 orang, tetapi yang berhasil menyelesaikan program ada 41 orang. Peserta pelatihan tersebut berasal dari 13 provinsi, Aceh (2 orang); Sumut (8 orang); Lampung (2 orang); Kalbar (8 orang); DKI Jakarta (4 orang); Jabar (6 orang); Jateng (3 orang); Bali (1 orang); NTT (1 orang); Sulbar (2 orang); Sulsel (3 orang); Maluku (1 orang); dan Papua (1 orang).
Adapun materi yang diberikan pada pelatihan Progsif XIII ini adalah: UnveilinGlory (Peter Hidayat, B.Sc); Konsep Misi Holistik (Suryo Pancoro Nugroho); Micro Enterprise Development (Yayasan Dian Mandiri, Tangerang, Banten); Sistem Pertanian Organik (Ir. Y.P. Sudaryanto); Sistem Agribisnis di Indonesia (Dr. Ir. Bambang Sayaka, M.Sc.); Ternak Babi (Sauland Sinaga, S.Pt., M.Si); Ternak Ruminansia dan Biogas (Dr. Ir. Kartiarso, M.Sc.); Teknik Pembiakan Vegetatif (Bp. Ngatari); Tanaman Hortikultura, Herbal dan Pemanfaatannya (Ir. Endang Setia M., M.Si); Ternak Unggas (Ir. Timbul Sihombing); Budidaya Perikanan, Teknik Perkolaman (Ir. Hidayat Eliazar); Pengelolaan Sumberdaya Air (Drs. Suharyono Santoso, M.T.); Teknologi Pangan Nabati, Teknologi Pangan Hewani (Dr. Ir. Hardoko, M.S.); Budiday Jamur (Yulius Selan, S.Th.); Program Pemberdayaan Masyarakat (Dr. Ir. Djuara Lubis, M.Sc); Dinamika Kelompok, Teknik PRA (Ir. Herlambang PS., M.Si); Usulan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (Pdt. Ir. Andrias Hans, S.Th.).

Penerimaan Mahasiswa Baru

Pada Tahun Akademik 2011/2012, jumlah mahasiswa yang diterima adalah 22 orang dan 1 orang mahasiswa transfer dari program Diploma 2 STT SAPPI. Mahasiswa tersebut terdiri dari 14 orang pria dan 9 orang wanita. Adapun nama-nama mahasiswa baru tersebut adalah Adrialina Bapisa, Hepriwanto Ludani, Man Yudama, Pelna Polibaon, Serli Kidolite (Sulteng); Dorkas Ranggabulawan, Gunarto, Natalia Lombayani, Sogeati (Sulbar); Aprison Naisanu, Jemson Naisanu (NTT); Apriyanti, Wiwit Didik Setiadji, Yokanan Tulus Pracoyo (Jateng), Famalua Gea, Fanotona Dohona, Yarni Tevis Hulu (Sumut); Indah Hayati (Lampung); Selpanus Gidion, Yugimas (Kalbar), Joni Urop, Yulianus Rokotkay (Papua). Sedangkan mahasiwa transfer dari program Diploma 2 STT SAPPI adalah Felix Herry Sugono yang pelayanan di GKNI Kalimantan Barat.

Pelatihan Teknologi Pangan

Pada tanggal 24-25 Maret 2011 telah diadakan Pelatihan Teknologi Pangan untuk mahasiswa STT SAPPI. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama STT SAPPI dengan Tim Pemberdayaan Masyarakat Universitas Pelita Harapan (UPH). Materi yang diberikan adalah pengolahan ubi jalar dan rempah-rempah.

Pelatihan Pertanian

Pada tanggal 16-21 Mei 2011 telah diadakan Pelatihan Pertanian (Padi) di PPMT Wilfinger (Kalimantan Timur). Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan PPMT Wilfinger Kalimantan Timur.

Upacara Bendera

Pada tanggal 17 Agustus telah diadakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-66. Upacara di pimpin oleh Bapak Ev. Sunarto, M.A dan diikuti oleh seluruh jajaran dosen dan civitas akademika STT SAPPI. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan perlombaan-perlombaan untuk memeriahkan perayaan HUT RI ke -66.

Wisuda STT SAPPI

Pada tanggal 13 Agustus 2011, STT SAPPI telah menyelenggarakan Acara Wisuda ke-8 untuk Program Diploma 3 dan Wisuda ke-3 untuk Program Sarjana. Wisuda ini diikuti oleh 31 orang wisudawan yang terdiri dari 18 orang wisudawan untuk Program Diploma dan 13 orang wisudawan untuk Program Sarjana. Adapun wisudawan dalam program Diploma adalah Kezia Priskila Magany, Beni Kuswoyo, Desi Chrismayani, Gustin Petra Yanti Benu, Gustriadi, Impran Nurwoko, Lulus Rahayu, Natalia, Veronica Rulli Sintami, Janrianto Purba, Agustinus Sandi, Ester Susilowati, Mesrawati Gea, Nani Mangonting, Ni Kadek Murtiani, Oskar, Riki Estomo, Tety Dewi Jayanti Zendrato. Sedangkan wisudawan untuk Program Sarjana adalah Ahmad, Kalimah, Robi Prianto, Yuliana Bittoen, Natalia Suwarni, Nolgi Fanco Pindeno, Agung Setio, Lenny Marista Lubis, Ronald, Yanris Yuneor Bureni, Liberty Hamonangan Simandjuntak, Kaventius, dan Warsiti.
Orasi dalam acara wisuda ini dibawakan oleh Pdt. Dr. Robert P. Borrong dengan tema “Peran dan Tanggung Jawab Hamba Tuhan dalam Era Post Modern”, dengan nats yang diambil dari I Raja-Raja 3:9.

Mie Singkong dan Labu Kuning

Oleh: D. Franklyn Purba, S.TP

Isu krisis pangan menjadi pokok pembicaraan belakangan ini. Betapa tidak, menurut laporan FAO Food Price Index 2010, sejak 1990, harga pangan mencapai puncaknya pada bulan Januari 2011 lalu. Artinya selama 20 tahun, harga pangan tertinggi di dunia terjadi pada bulan Januari 2011 lalu. Berkaitan dengan hal ini, banyak negara enggan mengekspor bahan pangannya (khususnya beras) ke negara lain, karena kekuatiran kekurangan stok pangan berkaitan dengan gagal panen karena cuaca ekstrim. Ketahanan pangan pun mendapat tantangan, rawan pangan dapat saja terjadi di berbagai tempat di muka bumi ini. Khususnya Indonesia, meskipun stok pangan (beras) masih dalam batas aman, tetap harus waspada agar tidak terjadi gangguan terhadap ketahanan pangan karena daya beli yang menurun dari masyarakat. Pemerintah harus mengusahakan secara serius agar daya beli masyarakat terhadap pangan tidak terganggu serta menjamin persediaan pangan aman terkendali.   
    Kebijakan swasembada beras di satu sisi merupakan kebijakan yang patut dihargai, namun di sisi lain kebijakan tersebut telah mencabut budaya makan makanan what we eat what we grow. Artinya, kebijakan perberasan telah mencabut makanan local dari wilayah-wilayah yang memiliki makanan pokok local yang dihasilkan dari daerah setempat. Sebut saja misalnya ubi jalar, sagu dan jagung. Gengsi makanan pokok Papua, Ambon-Maluku, dan Madura-Lombok ini terasa kalah dibandingkan dengan beras, karena tidak ada kebijakan setara untuk pengembangan ubi jalar, sagu, dan jagung sebagaimana kebijakan perberasan. Akibatnya terjadi ketimpangan, budidaya beras digenjot habis-habisan, padahal terutama ubi jalar dan sagu dapat tumbuh dengan baik tanpa upaya ekstra. Kebijakan diversifikasi yang sudah berumur 50 tahun, impelemntasinya sampai hari ini belum terasa benar.
    Untuk menghibur diri dan mulai kembali menggali pangan lokal kita, dan sekaligus dalam rangka diversifikasi pangan pengganti beras, redaksi BuMi memaparkan cara pengolahan pangan dari singkong dan labu kuning berikut ini. Perlu kita ketahui bahwa singkong merupakan salah satu tanaman yang tumbuh dengan baik di berbagai tempat di Indonesia dan menjadi salah satu sumber karbohidrat yang dapat mensubtitusi beras. Demikian juga labu kuning, adalah tanaman perdu merambat yang tahan kering, sehingga cocok ditanam di perladangan atau areal pertanian non-sawah. Akhir kata dari redaksi BuMi mengucapkan selamat mencoba!

Mie Singkong
Bahan:
    Tepung singkong    125 g
    Terigu        50 g
    Telur        1 butir
    Garam        ¼ sdm
    Air matang        60 ml
    Minyak kelapa/goreng    1 sdm

Prosedur Pembuatan:
1.    Bersihkan dan atau cuci bahan-bahan yang akan digunakan,
2.    Campurkan tepung singkong dengan telur ayam, garam dan minyak.
3.    Uleni hingga terasa licin dan elastis di tangan, juga lepas dari wadah tempat mencampur, kemudian bagi menjadi 2 bagian,
4.    Letakkan setiap bagian adonan di antara 2 lembar plastik dan tipiskan setebal 3 mm,
5.    Kukuslah selama 5 menit, dinginkan sejenak dan potong tipis-tipis memanjang menyerupai lembaran atau dengan bentuk sesuai selera. Tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat khusus untuk mie)

Hasil : 4 porsi, dengankomposisi mie singkong sebagai berikut:
    Kalori        263,83 kalori
    Protein        4.302 g
    Lemak        4,04 g
    Karbohidrat    51, 78 g

Dodol Waluh

Bahan :
•    Daging waluh segar 1000 g
•    Tepung ketan     60 g
•    Gula pasir         130 g
•    Santan         130 g
•    Kalium sorbet     0,6 g

Cara membuat :
1.    Santan kelapa dipanaskan lalu ditambah gula pasir.
2.    Waluh dikupas dn dipotong-potong kemudian dikukus dan dihaluskan.
3.    Waluh yang telah halus dicampur dengan tepung ketan kemudian dimasak setelah dicampur cairan santan gula. Pemasakan dihentikan setelah adonan matang, bila diteteskan mulur dan tidak terputus.
4.    Adonan didinginkan kemudian dicetak dan dikemas.

Tantangan Mengawali Panggilan

Oleh: Natali Suwarni, S.Th

Hidup dalam suatu keluarga Kristen tidak menjamin seseorang sudah hidup di dalam Tuhan. Demikian halnya kehidupan yang saya jalani Saya sangat bersyukur atas karya Tuhan Yesus yang telah membawa saya kepada suatu keyakinan yang pasti, yaitu keyakinan di dalam pengetahuan yang benar tentang siapa Tuhan Yesus, terlebih atas anugerah keselamatan dalam kehidupan saya.
Walaupun saya tinggal dalam keluarga Kristen, saya tidak yakin terhadap keberadaan Allah orang Kristen. Pemahaman dan pembinaan yang kurang dalam keluarga membuat saya tidak tahu siapa sesungguhnya Yesus dalam kehidupan saya. Rasa keraguan pun mulai timbul, terlebih ketika kedua orang kakak saya pindah keyakinan, di mana salah satu di antaranya adalah guru sekolah Minggu saya sendiri. Penyebab lain keraguan saya adalah ejekan dari teman-teman sekolah. Mulai dari tingkat SMP saya sudah mengalami ejekan dari teman-teman. Mereka mengatakan bahwa orang Kristen adalah orang kafir. Pernah ada salah seorang teman bertanya kenapa Allah-nya orang Kristen ada tiga. Pertanyaan tersebut tidak bisa saya jawab, karena saya sendiri memang tidak mengerti dan saya tidak tahu siapa Allah yang saya sembah. Setiap hari saya menjalani hidup dengan rasa keraguan.
Ketika saya melanjutkan studi ke SMA pun saya merasakan perlakuan yang tidak adil. Saya harus ngandong (belajar di sekolah lain) untuk mendapatkan pelajaran agama Kristen. Sekolah saya tidak menyediakan guru agama Kristen, sehingga untuk mendapatkan nilai agama, saya harus ikut di sekolah yang menyelenggarakan pelajaran agama Kristen. Pengalaman tersebut membuat saya semakin berpikir, bahwa sepertinya orang Kristen tidak dihargai, selalu dikucilkan. Namun, hati saya selalu merasa kesal, apabila ada teman-teman yang menghina orang Kristen sebagai orang kafir.
Suatu ketika hati saya merasa sedih, karena melihat kondisi Sekolah Minggu di gereja saya tidak ada lagi yang mengajar. Mulai saat itu saya memberitahukan kepada salah satu teman saya untuk berkomitmen mengajar Sekolah Minggu, meskipun hanya dengan bernyanyi dan berdoa. Setelah berjalan beberapa bulan, saya memiliki kerinduan untuk mengetahui kebenaran Firman Tuhan, supaya bisa mengajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu. Pergumulan ini terjawab, ketika saya masuk SMA. Saat itu ada dua orang mahasiswa dari STT SAPPI, yaitu Sigit Purwadi dan Lemis Gire, yang praktik di gereja kami, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Getsemani untuk pertama kalinya. Saya ditantang oleh kedua kakak tersebut untuk sekolah di STT SAPPI dengan tujuan untuk memperlengkapi diri dengan belajar firman Tuhan. Mulai saat situlah saya menggumulkan panggilan saya, sebab di sisi lain, saya diharuskan untuk kuliah di sekuler.
Setelah saya ujian akhir di SMA, saya mengisi formulir dari STT SAPPI. Walaupun saya belum tahu hasil dari ujian SMA, formulir tersebut telah dikirim. Suatu pernyataan saya saat itu, “jikalau Tuhan memang kehendaki untuk saya sekolah di STT SAPPI, pasti saya lulus”. Puji Tuhan, setelah saya mendapat pengumuman, ternyata saya lulus.
Setelah berjalan empat bulan saya memenuhi panggilan di STT SAPPI, saya mendapat telepon dari kakak saya yang pindah keyakinan. Dia menyatakan bahwa saya harus berhenti kuliah dan pindah kuliah ke jurusan ekonomi. Tantangan dalam menjalani panggilan menjadi hamba Tuhan, bukan hanya datang dari saudara kandung saja, tetapi juga ketika saya menjalani pembentukan selama di STT SAPPI yang penuh penyerahan dan penyangkalan diri kepada Tuhan.
Ketika saya berada di STT SAPPI, saya menemukan kebenaran yang saya cari. Dan saya mengaku Yesus Kristus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahkan tanpa ada suatu keraguan lagi. Sebab seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Selain dari ayat ini, saya juga mengalami pertumbuhan melalui pengajaran dan pembentukan selama studi di STT SAPPI.
Ketika akhirnya saya dapat menyelesaikan studi di STT SAPPI, bahkan sampai jenjang Strata 1 (S1), saya yakin dan percaya bahwa itu semua adalah karena kasih dan anugerah-Nya. Karena kasih setia-Nya, saya dimampukan dalam menjalani semua pembentukan yang ada. Bagi saya, kasih karunia dan karya Tuhan Yesus Kristus dalam hidup saya, sungguh ajaib.

Fenomena Beragama di Indonesia

Oleh : Pdt. I Putu Suwintana, S.Th.

Tidak bisa dipungkiri bahwa negeri kita yang luas ini terdiri dari orang yang beraneka ragam, agama, budaya, suku, bahasa, profesi/status sosial dalam masyarakat. Kesemuanya itu berkumpul menjadi satu baik di pedesaan maupun di perkotaan. Kemajemukan masyarakat merupakan fenomena yang memang ada dalam masyarakat Indonesia. Kemajemukan itu diikrarkan dalam satu tekad, yaitu Bhineka Tunggal Ika atau berbagai-bagai namun satu (Unity in diversity = Kesatuan dalam kepelbagaian) yang menjadi semboyan pemersatu. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia sudah lama berpengalaman hidup sebagai masyarakat majemuk, sehingga semestinya tidak menjadi persoalan. Namun kenyataannya, hubungan antar kelompok yang berbeda, terutama umat yang berbeda agama tetap atau semakin menjadi persoalan. Bahkan bisa berpotensi menjadi masalah SARA, artinya masalah yang peka dan rawan. Walaupun diluar nampak tenang, namun kita bisa merasakan adanya ketegangan yang tersembunyi dan bergolak dibawah permukaan. Walaupun kita dikenal dan mengaku sebagai masyarakat majemuk, namun masih ada pihak atau kelompok tertentu yang tidak mudah menerima perbedaan  baik sebagai sesama anak bangsa maupun sebagai sesama umat beragama. Ini masih nampak pada salah satu sikap dan tindakan pihak atau kelompok tertentu yang cendrung fanatik  ekstrem, provokatif, anarkis, bahkan tanpa merasa berdosa dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) merusak sarana ibadah umat beragama lain. Sehingga banyak  orang mengeluh, bingung, jenuh dan tidak tahu bagaimana harus hidup di negara sendiri.  Ada orang yang berkata : Negara  ini sudah mirip/menjadi rumah gila. Karena negeri yang masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat majemuk, ramah, santun, dan toleran, namun dalam realitanya ternyata masih ada kelompok atau pihak yang merasa tidak nyaman dan terkejut ketika berada ditengah masyarakat majemuk, atau bertetangga dengan sesama yang berbeda agama/keyakinan. Agaknya negara bisa menjadi inventaris pihak/kelompok tertentu  dengan paradigma dan etika serba boleh.  Oleh sebab itu,  kita agaknya sedang mengalami apa yang disebut  Alvin Toffler sebagai “kejutan masa depan” atau future shock tetapi juga” kejutan kemajemukan” atau plural shock.  Apakah memang demikian keadaan kita ?
Dalam kehidupan sosial, agama memang tidak hanya menjadi legitimasi etik bagi pemeluknya, tetapi juga memiliki peran penting dalam ranah kehidupan sosial masyarakat, ekonomi, demikian pula dalam ranah politik. Dengan kata lain, peran agama dalam masyarakat  kita  cukup menguat, dan tercermin baik pada struktur masyarakat maupun dalam struktur politik bernegara. Fenomena tersebut membenarkan prediksi Jhon Naisbit tentang “kebangkitan agama-agama” pada abad 21 yang ditandai dengan makin meningkatnya hasrat masyarakat menjadikan agama sebagai sumber utama rujukan dalam setiap ranah kehidupan. Namun di sisi lain, kebangkitan agama menjadi pergumulan atau kekwatiran tersendiri. Pasalnya, kebangkitan agama yang terjadi, agaknya baru sebatas kebangkitan dalam arti formal, yaitu peningkatan secara  kuantitatif  penganut agama di tengah masyarakat. Kebangkitan agama belum sepenuhnya disertai dengan komiitmen untuk menjalankan ajaran agama secara substantif. Kebanyakan orang masih mengamalkan simbol-simbol ritual agama yang tidak disertai kesadaran spiritual. Model pengenalan agama yang menekankan simbol-simbol ritual ini berpotensi menampilkan wajah kehidupan beragama yang kurang angun atau bersahabat  dan tidak jarang terkesan menyeramkan karena semangat penuh fanatik dari masing-masing pengikut agama terkadang memicu pecahnya konplik antar umat  beragama. Disinilah kebangkitan agama memiliki dua sisi yang harus diperhatikan sekaligus diwaspadai. Karena agama berpotensi menjadi altruism masyarakat atas nilai-nilai, sekaligus berpotensi pula menjadi komuditas sentimental terhadap realitas yang penuh keragaman budaya etnis dan agama. Agama yang seharusnya menjadi inspirasi bagi manusia untuk membangun hidup berkeadaban belum menyentuh problem real kemasyarakatan. Para agamawan masih cenderung lebih memilih tema surga dan keselamatan di akhirat ketimbang membicarakan atau melakukan dialog dan forum kajian ilmiah tentang sikap apa yang seharusnya dimiliki seseorang yang beragama dalam membangun peradaban manusia seutuhnya. Lebih parah lagi masih banyak  dari kalangan agamawan menjadikan agama hanya sebagai  instrument pembangunan kekuatan politik untuk kepentingan pribadi. Doktrin agama diartikan/diiterpretasikan untuk melegitimasikan kepentingan pribadi semata dan menghancurkan bangunan stabilitas sosial, dan masyarakat hanyut dalam hegemoni  kepentingan para tokoh agamanya yang terkadang tidak jujur. Bahkan tidak jarang kelompok agama tertentu dalam masyarakat menyakiti kelompok yang lainnya dengan mengatasnamakan “kebenaran”,  “mission” serta istilah lain yang kerap diperdengarkan dan menjadi materi kajian yang sering diperbincangkan di tengah-tengah masyarakat oleh tokoh agama melalui ceramah-ceramahnya.
Kehadiran Agama-agama di Indonesia
      Sejak terbentuknya Negara Republik Indonesia, para pendiri (founding father) Negara kita telah menempatkan agama sebagai peran penting dalam menentukan arah kehidupan bangsa. Dalam pembangunan bangsa, agama berperan penting sebagai motivator dan meletakan lansasan etis, moral dan spiritual didalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. Dalam konteks berbagsa, bermasyarakat dan bernegara di Indonesia, yang dinamakan agama itu adalah; agama Islam, agama Katolik Roma, agama Kristen Protestan, agama Hindu, agama Budha, dan agama Konghucu baru sejak zaman pemerintahan Presiden Abdulrahman Wahid atau Gusdur. Jadi yang dinamakan agama disini hanya terbatas pada lima agama tersebut, yang pengaturannya secara politis oleh Departemen Agama. Sedangkan yang biasa kita kenal sebagai agama-agama suku tidak termasuk dalam kategori ini. Pembinaan terhadap agama-agama suku dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dianggap bukan sebagai agama melainkan sebagai budaya spiritual bangsa. Atas dasar pengertian ini, maka orang mengatakan bahwa sejak zaman dulu  sejak zaman nenek moyang kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Tampaknya, kriteria yangmengukur pengertian agama berkisar pada lima hal: 1.Mengandung kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.2.Bersifat universal dalam arti pengajaran dan pengaruhnya berlaku dan meliputi seluruh dunia 3. Diwahyukan 4. Mempunyai tokoh nabi dalam ajarannya. 5. Mempunyai kitab suci. Dengan criteria demikian, maka agama-agama suku tidak dapat digolongkan sebagai agama.
      Agama dalam pengertian yang disebut di atas, maka jelaslah bahwa peranan agama sangat integeral dalam kehidupan berbangsa dan telah tertuang dalam Pancasila yang didalamnya  sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama. Dalam rangka pengertian sila pertama dalam Pancasila, maka kesemua merupakan pencerminan dari adanya kepelbagaian agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia yang meliputi satu wilayah tanah air Indonesia. Dalam naungan Sila Pertama dari Pancasila, maka kedudukan kesemua agama itu tanpa memandang  mayoritas dan minoritas melainkan sama dan sederajat di hadapan hukum. Hal ini dapat pula berarti  tidak bermaksud menerima pandangan bahwa atas dasar Pancasila semua agama menjadi sama, karena pada hakikatnya mereka menyembah Tuhan yang sama.  Pandangan yang demikian adalah keliru dan harus dihindari atau ditolak. Karrena bermuara kepada terjadinya reativisme atau kompromi aqidah dan sinkretisme. Namun yang dimaksudkan adalah bahwa agama kita berbeda namun kita sama dalam hal mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa menurut kepercayaan dan pengertian  masing-masing agama. Pandangan inipun sesuai dengan motto Bhineka Tunggal Ika yakni ketunggalan/kesatuan yang berakar pada kepelbagaian. Pandangan ini hendak mengatakan bahwa didalam sikap hidup yang mengakui perbedaan itulah kebersamaan dapat beroperasi secara baik. Inipun menunjuk kepada arti atau makna hidup itu sendiri, yakni hidup bermakna dalam kepelbagaian dan keterhubungan (related to) dengan sesame umat beragama. Dengan demikian, dalam naungan Pancasila agama menjadi  berkarakter menghadirkan kebaikan, mencegah keburukan dan meyakini Tuhan Yang Maha Esa didalam dan bagi setiap hubungan antar keyakinan. Dengan demikian pula, agama bisa menjadi inspirasi untuk hidup mewujudkan syalom di tengah dunia yang pluralistis  dan berubah.
 Peran  para Agamawan.
Di tengah fenomena beragama dalam masyarakat plulalistis, para agamawan adalah ujung tombak dalam pembinaan umat masing-masing. Mereka bukan saja pemimpin, melainkan juga Pembina, pendidik dan penyampai pokok-poko ajaran dan keyakinan agama mereka pada umat masing-masing. Dalam masyarakat Indonesia yang paternalistic para pemimpin agama, seperti Pastor, Pendeta, Ulama, Guru Agama, Da'i/Mubaligh dan Bikhu adalah tokoh panutan. Apa yang diperbuat, disampaikan, dan diajarkan oleh agamawan pada umat sangat mempengaruhi sikap dan prilaku keberagamaan umat. Kenyataan secara umum memperlihatkan, masih banyak khotbah attau ceramah yang disampaikan oleh para agamawan masih mengandung misperception dan misunderstanding terhadap agama atau keyakinan lain. Bahkan terkadang masih muncul khotbah aatau ceramah yang bernada hasutan, fitnahan dan provokatif terhadap agama lain. Hal ini memperlihatkan bahwa kesadaran tentang realitas pluralitas masyarakat dan agama dan pentingnya toleransi belum memadai. Rendahnya kesadaran terhadap realitas pluralitas masyarakat berpotensi bukan saja mengganggu kehidupan bersama dalam masyarakat, melainkan juga berpotensi bagi kekerasan terhadap kemanusiaan. Dengan kata lain, kekerasan terhadap orang lain justru bermula dari kekerasan di  dalam pikiran yang pada saatnya akan terwujud dalam bentuk kekerasan fisik, atau perlakuan diskriminatif terhadap sesama manusia, sesama anak bangsa, sesama umat beragama. Pengalaman dan peristiwa konplik bernuansa SARA yang pernah terjadi seperti Ambon, Poso, Sampit, dan sebagainya memperlihakan peran yang signifikan dari para agamawan/tokoh agama dalam mengobarkan semangat kebencian atau permusuhan terhadap kelompok lain.
Agama dan Hak Asasi Manusia
Dalam konferensi Agama dan Perdamaian yang berlangsung di Kathmandu, Nepal 28 Oktober  2 Nopember 1991, dikatakan bahhwa peranan agama dalam kehidupan manusia adalah sangat menentukan. Alasannya, karena agama adalah mata air kehidupan tempat manusia menemukan makna kehidupan yang terdalam. Ini menandakan bahwa beragama adalah salah satu hak asasi manusia, karena didalamnya manusia menemukan pandangan hidup dan inspirasi yang dapat menjadi landasan yang kokoh untuk pembentukan nilai, harkat dan martabat manusia. Begitu pentingnya peranan agama, maka dalam mengisi era globalisasi atau abad 21 yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia akan mendambakan peranan agama sebagai petunjuk rohani untuk mengatasi keterasingan dan kegersangan batiniah. Dengan demikian, agama menjadi sebuah komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian bagi manusia di masa kini maupun di masa mendatang. Dengan demikian pula, peranan agama bukanlah terutama sekedar untuk melestarikan nilai-nilai tradisional, tetapi berperan lebih sebagai suatu kekuatan yang transformatif. Artinya agama berada bukan untuk memuja masa lampau, tetapi menjadi inspirasi dan mampu menciptakan masa depan. Inilah peranan agama-agama dalam kehidupan manusia pada masa kini maupun dimasa mendatang, sehingga dalam menghadapi dunia modern ini dimana terjadi  kebangkitan agama-agama, hak asasi manusia perlu dijamin; karena pada dasarnya di masa dan di abad manapun manusia itu adalah manusia yang beragama.  Kesadaran dan pengakuan bahwa beragama adalah hak asasi manusia, hendaknya berlanjut pula kepada kesadaran terhadap realitas pluralitas masyarakat; kesadaran membangun kehidupan bersama yang saling menghormati dan saling menghargai berbagai  perbedaan agama, kepercayaan, bahkan keyakinan; serta melahirkan komitmen terhadap kehidupan bersama yang mengupayakan dan memperjuangkan perdamaian dan keadilan bagi masyarakan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kecendrungan mempertuhankan agama,  pemutlakkan agama sendiri/tertentu dan melihat orang lain salah, dosa dan sesat dapat dihindari. Karena akibat dari sikap pemutlakkan agama menjadi tragis. Ada keluarga yang pecah karena agama. Ada Negara yang pecah karena agama. Orang saling membenci bahkan saling membunuh karena agama. Tragis dan ironis, karena semua agama mengajarkan welas asih dan kasih saying. Tetapi jika penganut-penganutnya memutlakkan agama sendiri sebagai tujuan, maka agama berwajah seram. Dan agama berpotensi mengotak-ngotakkan manusia, menyekat-menyekat, memisah-misahkan manusia. Saling menajiskan satu dengan yang lain. Penuh prasangka. Tidak bisa saling menerima sebagaimana adanya.  Padahal Tuhan tidak demikian. Tuhan menerima manusia yang bertobat seperti apa adanya.  Ada hal  penting dalam Kisah Para Rasul 10:34-35 dimana Petrus berkata: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya”. Demikian kata Alkitab, Kiranya menjadi inspirasi bagi kita untuk lebih mengenal dan memahami konteks kita sebagai pengikut Kristus serta bergumul dan berjuang menjadi  gereja bagi sesama.

Menhadirkan Kerajaan Allah Dalam Kehidupan Gereja

Oleh: Pdt. Yusman Liong.M.Th

Kata Kerajaan dalam bahasa Inggris terbentuk dari dua kata yaitu “King's Domain”  = King-Dom. Ini adalah wilayah atau daerah yang dikuasai dan diperintah oleh seorang raja. Sedangkan Kerajaan Allah,  adalah pemerintahan atau kekuasaan Allah, yang meliputi surga maupun bumi. Jadi keluasan Kerajaan Allah bukan hanya di sorga atau di bumi saja, tetapi meliputi Sorga tempat Allah berada dan di bumi yang mana Injil Kerajaan itu diberitakan. Kerajaan Allah berada di bumi bukan karena Allah intervensi ke bumi, bukan juga Allah memperluas pemerintahanNya. Sebab baik sorga maupun bumi adalah milik Allah dan tidak pernah diberikan kepada siapapun. Kerajaan Allah diterjemahkan dari bahasa Yunani, "Basileia". Kata ini berbicara tentang goncangan, peraturan, pengelolaan pemerintahan oleh seorang raja, atau pemerintahan seorang raja dalam Kerajaan Allah. Seseorang tidak dapat memisahkan antara raja dengan kerajaannya, selama Allah campur tangan.
Kata "kerajaan" dipakai sekitar 160 kali dalam Perjanjian Baru.

1.    Berapa lama Kerajaan Allah tetap ada?
a.    Kerajaan Allah adalah sebuah Kerajaan kekal (Mzm. 145:10, 13; 103:19; Dan. 4:3). Tidak pernah ada waktu di mana Kerajaan Allah tidak pernah ada. Ia tidak mempunyai awal dan akhir.
b.    Kerajaan Allah berkuasa, memerintah atas seluruh kerajaan (Mzm. 103:19;   Why. 11:5).
c.    Kerajaan Allah semuanya bersifat inklusif,  termasuk di dalamnya adalah setiap orang yang percaya Tuhan Yesus, bidang kekuasaannya meliputi  semesta alam, para malaikat terpilih, surga, para malaikat yang jatuh dan semua ciptaan, dan umat manusia di atas bumi ini. Semuanya berada di bawah kendali dan kekuasaan-Nya. Tidak seorang pun yang dapat berada atau bertindak tanpa kekuatan-Nya yang menopang (Mzm. 103:19; Kel. 15:18; Mzm. 145:10-13).

2.    Apa perbedaan antara Kerajaan Allah dengan Kerajaan Surga?
          Tidak ada perbedaan antara kedua istilah di atas; keduanya adalah sinonim. Sebuah perbandingan dari Injil berikut ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan mengenai Kerajaan Allah juga dikatakan sebagai Kerajaan Surga (Mat. 23:22).

Kerajaan Surga     Kerajaan Allah
Matius 4:17        Markus 1:14
Matius 5:3        Lukas 6:20
Malius 10:7        Lukas 9:2
     Matius 11:11        Lukas 7:28
     Matius 13:11        Lukas 8:10
     Matius 13:31    Lukas 13:18,19
     Matius 19:14    Markus 4:30, 31
     Matius 19:23, 24    Lukas 18:24
Matius (menulis khususnya mengenai orang-orang Yahudi yang bertobat) selalu menggunakan ungkapan "Kerajaan Surga," sedangkan Markus, Lukas dan Yohanes menggantinya dengan "Kerajaan Allah."
Adalah sebuah kebiasaan di antara bangsa Yahudi untuk memakai kata "Surga" untuk Allah, dan dalam Matius 23:22, Tuhan sendiri menyatakan bahwa bersumpah demi surga berarti bersumpah demi "takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya."
Penyataan Lebih Jauh tentang Kerajaan Allah
Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dengan sendirinya berada dalam Kerajaan Allah, yang Allah sendiri yang bertahta dan memerintah hati mereka, namun sering pula banyak orang Kristen yang tidak merasa berada dalam Kerajaan Allah atau berada dalam pemerintahan Allah.
Sehingga kehidupan sehari-harinya tidak berbeda dengan orang-orang duniawi yang tidak percaya akan Tuhan Yesus. Sebenarnya secara nyata hidup dalam kebenaran firman akan membuat hidupnya berbeda dengan diluar firman. Seperti orang Korintus, Roma, jemaat waktu itu tidak dapat membedakan kehidupan yang rohani dengan kehidupan duniawinya, semuanya sama saja.

Apakah ini disebabkan belum mengalami lahir baru?
Proses lahir baru dikerjakan oleh Allah Roh Kudus dalam hati orang yang mendengar dan percaya Injil Tuhan, hatinya segera menunjukkan reaksi yang mendorong orang untuk percaya atau melakukan kehendak Allah. Firman Tuhan yang didengar bersuara menuntun, biasanya  orang tersebut secara tiba-tiba memiliki perasaan bersalah, malu, takut kepada Allah dsbnya.
Namun jika ia menolak, atau tidak mengerti bahwa Roh Kudus sedang bekerja dalam dirinya, maka suara Tuhan dalam hati akan terus bersuara menuntun dan mendorongnya sampai ia mengambil keputusan yang benar. Hati yang telah diperbarui bukan saja mendorongnya berbuat sesuai firman Tuhan, tetapi juga membuatnya memiliki buah Roh Kudus  Galatia 5: 22-26. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
Sedangkan yang belum lahir baru hidupnya akan sama dengan Galatia 5:19-21, perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Jadi, hidup duniawi dengan hidup rohani seseorang yang bergereja akan sangat beda, ini seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus di bagian atas. Kita sadar kelakuan yang selama ini sangat sarat (terlalu banyak dan berat) dengan hal-hal duniawi sehingga perubahan hati (lahir baru) tidak dengan sendirinya berubah 100 % .
Banyak orang menjadi Kristen tetapi mengeluh beratnya hidup yang harus serupa dengan pembaruan budi (Roma 12:1,2) Tetapi sebenarnya itu hanyalah perasaan pribadi yang masih mencintai perkara yang duniawi. Dalam I Yohanes 5:3,4.berkata: Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.
Orang Kristen banyak yang hanya mengaku di mulut atau mengatakan benar secara akal, tetapi tidak yakin dan percaya secara hati, sehingga tidak lahir baru. Nah, kalau hidup masih seperti Galatia 5:19-21, Paulus berkata diakhir ayat 21, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dalam Kerajaan Allah di dunia ini maupun Kerajaan Allah di Sorga nanti.
Paulus berkata:” Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya”. Filipi 3:20,21.
Sekalipun kita berada dan hidup di bumi Indonesia (dunia) ini dan memiliki kewarganegaraannya, tetapi secara spiritual kita adalah warga negara surgawi dan Allah telah mencatat status kita bahkan kita memiliki warisan yang sama dengan Tuhan Yesus. (Gal.4:7; Yakobus 2:5)
Jika mengikut Yesus Kristus tetapi ternyata lebih cenderung hidupnya keduniawian tentu dapat dikatakan bahwa orang tersebut hidupnya masih duniawi, belum lahir baru Yohanes 3:3 Tuhan Yesus mengatakan:” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”. Dan dengan demikian tentu tidak akan pernah memiliki buah Roh. Jadi jelas, orang tersebut  tidak memiliki status kewarganeraan Allah, dia hanya berstatus anggota jemaat setempat.

Kerajaan Allah,  adalah pemerintahan atau kekuasaan Allah, yang meliputi surga maupun bumi.
Setiap orang yang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya diberinya kuasa supaya  menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12). Sebagai anak Allah sudah semestinyalah hidup menurut Roh atau memiliki kehidupan rohani yang baik. (Roma 8:9-11). Sedangkan dalam Roma 8:14 mengatakan:”Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”.
Dalam pemerintahan Kerajaan Allah tentu hanya Allah yang memiliki kuasa sebagai raja yang menentukan atau yang berdaulat penuh. Dia memiliki hukum-hukum untuk kehidupan kekal bagi manusia. ( Kolose 2:6,7) Oleh sebab itu Allah telah mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang sakit (Lukas 9:2). Dengan mandat tersebut para Utusan dapat memperluas Kerajaan Allah, dan Allah  memakai orang-orang pilihannya ini untuk pergi memberitakan Injil Kerajaan Allah, yaitu orang-orang yang telah lahir baru, memiliki karunia-karunia rohani dan kuasa-Nya. Oleh karena itu Paulus menasihati beberapa jemaat agar mereka bukan saja dapat kerjasama dengan para utusan Injil tetapi juga taat dan melayani bersama. (lihat I Tes 5:12,13; I Tim 5:17; Ibrani 13:17)
Beberapa ayat di atas adalah sangat harus diperhatikan, sebab para utusan yang menjadi penatua, pimpinan berusaha menjaga jiwa-jiwa yang Allah serahkan kepada mereka untuk digembalakan, dirawat dan yang bertanggungjawab atas jiwa mereka dihadapan Allah. Jika demikian, tentu haruslah dimengerti bahwa pelayanan para hamba Tuhan baik sebagai pendeta, evangelis adalah orang-orang yang menggembalakan jemaat dan mereka harus bertanggungjawab di hadapan Allah.
Apakah jemaat itu sanak famili, saudara sekandung? Bukan, mereka hanya domba gembalaannya yang Allah berikan kepada mereka, tetapi dihadapan Allah mereka harus mempertanggungjawabkan jiwa mereka. Oleh karena itu jemaat, maupun  para penatua, diaken, para pengurus yang setia, taat akan firman Tuhan akan sangat menghormati para hamba Allah, tetapi mereka yang haus kekuasaan, yang menganggap kesetaraan diri dengan hamba Allah tentu selalu mencari perkara, ( jelasnya lihat I Tim 6:4,5).

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Roma 14:17. Paulus dalam bagian ini dengan jelas mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum tetapi soal soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Inilah hal-hal rohani yang dicari dan yang harus didapatkan oleh seluruh jemaat Tuhan (banding  Matius 6:33).
Dalam Kerajaan Allah, maka Allah Yehova menjadi raja, yang berdaulat dan memerintah dan Dia mengutus para hamba-Nya yaitu pendeta dan para penginjil untuk dan secara khusus melayani Dia dan memperluas Kerajaan Allah di dunia ini..
Kehadiran Kerajaan Allah adalah menyediakan damai sejahtera bagi umat manusia yang berkumpul dalam gedung ibadah yang biasanya di sebut gereja, bagaimana dengan gereja kita apakah menyediakan damai dan kasih Karunia Allah dan keselamatan atau aku yang berdaulat dan berkuasa?

Orang Miskin Yang Berbahagia

Kebanyakan orang percaya bahwa kebahagiaan akan diperoleh ketika kita memiliki harta yang banyak atau kaya. Akan tetapi kenyataannya, tetap tidak bahagia tatkala sudah memiliki apa yang dianggap dapat membahagiakan. Kalau kita mau jujur, tidak semua orang mampu merasakan dan menikmati kebahagiaan di dalam hidupnya. Ada banyak orang yang kaya di dalam dunia ini, ada banyak orang pintar di dalam dunia ini, ada banyak keluarga yang kelihatan luarnya bahagia tapi sebelah dalamnya menderita. Ada orang yang tidak bahagia saat belum menikah akan tetap tidak bahagia bila sudah menikah. Ada orang yang tidak bahagia saat menjadi karyawan biasa akan tetap tidak bahagia saat menjadi direktur. Ada orang yang tidak bahagia saat punya motor akan tetap tidak bahagia saat punya mobil. Ada pendeta yang tidak bahagia saat menggembalakan 50 orang jemaat akan tetap tidak bahagia saat ia menggembalakan 5000 orang jemaat. Setelah punya sepeda kita ingin punya motor, setelah punya motor kita ingin mobil, setelah punya mobil kita ingin punya kapal dan seterusnya sebab hati kita tidak akan pernah puas. Mengapa? Karena kita tidak memiliki kebahagiaan yang sejati. Sehingga apapun yang kita usahakan untuk menciptakan kebahagiaan di dalam hidup kita tetap  tidak bisa. Penyebab utama mengapa kita tidak merasa bahagia karena kita memusatkan perhatian pada apa yang kita tidak miliki bukan pada apa yang kita miliki.

Dalam khotbahnya di bukit, Tuhan Yesus mengawalinya dengan ucapan-ucapan berkat. Setiap berkat yang diucapkan Yesus mempunyai tujuan untuk menunjukkan siapa yang benar-benar dapat disebut berbahagia, dan seperti apa watak mereka. Dalam khotbahnya Tuhan Yesus memberikan delapan sifat orang yang diberkati atau berbahagia. Dalam tulisan ini kita akan melihat salah satu dari berkat itu, yaitu “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Mat. 5: 3). Apa arti miskin di hadapan Allah?
Kata “bahagia” berasal dari kata makarios, yang berarti blessed atau “sukacita.” Namun kata “bahagia” yang agaknya lebih mempunyai nuansa Kristen, menunjuk pada sukacita dalam hati dan kehidupan seseorang, bukan yang ditentukan oleh faktor luar atau lahiriah, melainkan karena adanya karya Allah dalam Kristus yang dikaruniakan kepadanya. “Miskin di hadapan Allah.” Dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk “miskin.” Yang pertama ialah penes, yaitu miskin dalam arti tidak kaya, tidak mempunyai banyak harta, hidup sederhana. Yang kedua ialah ptokhos, yaitu miskin dalam arti sangat miskin, miskin yang tidak mempunyai apa-apa, miskin dalam arti yang apabila tidak ditolong ia akan mati kelaparan. Kata ptokhos inilah yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam kalimat di atas: “miskin di hadapan Allah.” Frasa “di hadapan Allah” sebetulnya adalah “dalam roh” atau “in the spirit.” Maka kalimat itu sebenarnya berarti barangsiapa yang secara rohani merasa begitu miskin dan sepenuhnya tergantung kepada Allah, orang itulah yang disebut “berbahagia.” Karena kemiskinan secara rohani itulah seseorang akan berseru minta tolong kepada Allah, maka Allah akan berkenan menolong dia dan menganugerahkan Kerajaan Sorga kepadanya. “Sebab, barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan!” (Rm. 10: 13).

Jadi kita mengerti bahwa miskin itu sendiri tidaklah membawa kebahagiaan pada seseorang. Karena yang dimaksud Yesus ialah miskin secara rohani di hadapan Allah. Orang yang demikian secara naluri akan berseru minta tolong kepada Allah. Maka Allah yang Mahakasih dan Mahamurah pasti akan menyelamatkan orang itu dengan mengaruniakan Kerajaan Sorga kepadanya. Pemazmur mengatakan: “Orang yang miskin berseru, dan Tuhan mendengar, Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya” (34:7). Kata “empunya” adalah dalam bentuk present, yang berarti pada waktu seseorang merasa dirinya begitu miskin di hadapan Allah dan berseru kepada Allah, maka pada saat itulah ia memiliki Kerajaan Sorga. Hal ini berbicara tentang aspek kekinian dari Kerajaan Sorga. Namun kita mengerti bahwa Kerajaan Sorga juga mempunyai aspek yang akan datang atau future, yang berarti satu hari kelak kita pasti akan memiliki Kerajaan Sorga secara penuh. Dunia mengatakan: “Berbahagialah orang yang kaya, karena merekalah yang empunya kerajaan dunia.” Tetapi Yesus mengatakan: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Inilah perbedaan hakiki antara ajaran Kristus dan ajaran dunia, antara filsafat Kristen dan filsafat dunia.
Kita tidak sedang membicarakan bahwa untuk menjadi bahagia kita tidak boleh memiliki harta benda, keluarga, sahabat dan jabatan di dunia ini. Bukan itu, miskin di hadapan Allah bukan berarti miskin secara materi melainkan sikap hati kita yang tidak menaruh kebahagiaan pada harta dunia ini. Orang yang miskin secara materi bisa saja tidak miskin di hadapan Allah bila sikap hatinya masih menaruh kebahagiaan pada harta dunia. Abraham merupakan orang yang miskin di hadapan Allah meskipun ia memiliki harta dunia yang melimpah sebab ia tidak menaruh kebahagiaannya pada harta yang ia miliki bahkan anak semata wayangnya saja rela ia persembahkan kepada Allah.

Allah menghendaki manusia miskin di hadapan-Nya, bukan miskin di hadapan manusia. Miskin di hadapan Allah sebenarnya kita membutuhkan Tuhan untuk memberi kekuatan dan berkat-berkat dalam hidup kita. Sehingga kehausan, kelaparan, penderitaan, kekurangan kita dapat dipenuhi oleh Tuhan. Itupun dibutuhkan suatu kemauan yang sungguh untuk mencari dan mau dituntun oleh cara Allah dan penilaian Allah sendiri yang dinyatakan dalam Firman-Nya dan bukan oleh cara dan nilai dunia ini.

Mari kita selidiki hati kita. Sadarilah bahwa kebahagiaan sebenarnya hanya didapat ketika kita sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan. Kemiskinan itu bukan alasan untuk tidak bisa menikmati kebahagiaan. Justru di dalam kemiskinan itu, Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah".

Sumber:
Http://saluranberkat-a3l.blogspot.com